Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts

Monday, May 10, 2010

Travelling the World: Egypt Session, Gembiraloka

-->
PRE-CAUTION
Penyebutan nama tempat, resto, organisasi, perusahaan, dsb. di sini didasarkan pada alasan kebutuhan akan fakta saja; semua opini dan komentar yang ada di post ini semata-mata ditulis berdasarkan pengamatan kami sendiri, tanpa ada pengaruh dari pihak ketiga; tanpa adanya sponsorship dari nama-nama yang disebut; tanpa tujuan komersial dan persaingan pasar apapun seperti promosi maupun bad-imaging.

Sebelumnya, maafkan saya karena saya terpaksa memotong kisah perjalanan saya dengan Merlynda Ayu Rara Dini dan Ratih Sanjaya Wahyuningrum. Namun, saya sudah melakukan sebuah perjalanan lagi, dan ada banyak hal di sana yang harus saya ceritakan.

Jadi…

Pada tanggal 25 April 2010 kemarin, saya dan teman-teman dari kelas IX B SMP Negeri 5 Yogyakarta mengadakan sesi pemotretan outdoor untuk yearbook kelas kami. Tema yang diambil adalah Travelling; intinya kami berjalan-jalan keliling dunia: ke Jepang, Mesir, Prancis, dan Amerika Serikat. Dua hari sebelumnya kami telah mengambil gambar sesi indoor; hari itu, saatnya kami berkeliling Jogja!

Kami pergi ke lima spot: Kebun Binatang Gembiraloka, Taman Pintar, Dapur Cokelat, Japan College, dan terakhir Mi Ramen Jakal. Untuk sesi Mi Ramen Jakal, mengingat jauhnya lokasi dan keterbatasan transpor serta waktu, akhirnya diganti di Nikkou Ramen di Jalan AM Sangaji. Perjanjian dengan fotografer kami, Mas Handy dan Mas Bayu, sudah dibuat; honor sudah disiapkan (hahaha); jadwal sudah disusun dengan saksama; dan SMS maupun pengumuman sudah disebarkan.

Semua panitia rencananya akan ikut. Panitia yang ikut full seluruh sesi pemotretan hingga sore antara lain saya (karena saya ketiban ubi runtuh menjadi ketua panitia buku tahunan kelas), Ratih, Dhela alias Dhela Saputri, Icha, Inggit, Luky, Okka. Rencananya, pagi itu saya akan dijemput oleh Luky lalu langsung mbablas ke Gembiraloka, dan selama perjalanan itu Luky juga yang memboncengkan saya (karena saya belum memiliki vespa warna putih, dengan bendera Union Jack di bagian belakangnya, dan helm retro warna putih pula).

Tetapi, seharusnya, pagi itu saya sudah mendapatkan pertanda bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang konyol dan amat sangat menyedihkan. Apa pertandanya? Satu hal yang sudah ditulis berkali-kali menjadi sumber malapetaka—setidaknya di blog GudangSaya ini: hujan.

Ya, hujan. Sejak malam Minggu hingga Minggu paginya, hujan turun dalam intensitas yang membuat jantung setiap orang yang pemotretan outdoor jedag-jedug—deras luar biasa, mereda sedikit, turun lagi agak banyak, lalu deras, lalu gerimis, lalu reda, lalu hujan lagi… dan begitu seterusnya, tanpa ada kepastian akan reda. Begitu tidak pastinya hingga akhirnya datanglah sms bertubi-tubi dari panitia pemotretan, dan teman-teman model pemotretan, yang bertanya: “Jadi ga nanti? Hujan nih” “Akib, di rumahku hujan, gimana nanti jadi ga? Masa pemotretan hujan-hujan” “Diundur waktunya piye? Ujan deres di rumahku”

Akhirnya, saya—setelah berembug dengan pihak-pihak terakhit—memutuskan untuk membatalkan sesi outdoor di Gembiraloka mengingat sesi itu yang nantinya benar-benar ada di luar ruangan, dan kemungkinan terpapar hujannya besar. Akhirnya, saya menelepon teman saya, Satrio (karena Mas Handy, fotografer sesi itu, adalah kakak kandung Satrio), untuk mengundur sesi Gembiraloka ke hari Senin, dan mengirim SMS ke panitia yang lain—dan lima menit kemudian Inggit membalasnya:

INGGIT:
Akib !
Kenapa di Gembiraloka nya dibatalin ? Rumahku kan deket Gembiraloka , jadi aku tau cuacanya . Di sini tuh gak hujan . Jadwalnya kan udah dibuat , ngapain dibatalin ?

AKIB:
Lha tapi aku dah bilang sama mas nya Satrio kalau dibatalin e, lagian mas nya Satrio sendiri yang ngusulin diundur aja kalo hujan.

INGGIT:
Udah , ya bilang aja sama mas nya satrio “Mas,tapi kita kan harus ngikutin jadwal” apa gimana lah. Pokoknya hari ini harus jadi!

Maka, setelah Inggit menginformasikan bahwa di kediamannya tidak hujan—dan itu berarti, menurut Inggit, Gembiraloka tidak hujan (dan membuat saya bertanya-tanya, apakah kediaman Inggit dan Gembiraloka adalah sama); dan setelah berkonsultasi dengan teman-teman panitia yearbook; dan setelah menelepon Satrio; akhirnya sesi Gembiraloka diadakan hari Minggu itu juga, hanya diundur ke jam 08.30 pagi.

Saya dijemput Luky dengan segera dengan motor Tiger (iya bukan sih? Saya bukan penggila otomotif) abu-abu miliknya, dan kami segera berangkat ke Gembiraloka. Kami tiba di Gembiraloka kira-kira jam 8.40. Inggit serta Ratih sudah tiba sebelumnya, dan tentu saja Satrio serta Mas Handy. Lalu, salah satu model hari itu, sahabat saya, Luthfi Ghivari alias Simbah, Akhirnya, kami memutuskan bahwa kami tidak perlu menunggu panitia yang lain (dengan kata lain Dhela, Icha, serta Okka, karena menurut teman-teman yang lain mereka toh akhirnya juga datang telat), kami masuk dan menemui model pemotretan yang sudah menunggu di dalam.

Model sesi pemotretan berkode MESIR3 itu adalah Luthfi alias Simbah, Haidar alias Prenges, dan Akbar alias Sayatidaktegamengatakannya (mengenai pemberian alter ego tersebut, maafkan saya teman-teman). Pura-puranya, ketiga teman saya tersebut akan memerankan kafilah suku pribumi Sinai, yang sedang mengadakan perjalanan dengan Unta. Oleh karena itu, nanti mereka akan naik unta Gembiraloka dengan gamis dan kafiyeh.

Saya sudah, katakanlah, kurang lebih 6 tahun tidak ke Gembiraloka, dan keadaannya sungguh lebih memprihatinkan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kami kira, dengan harga tiket yang berubah menjadi Rp 12.000,00 (sehingga saya dan teman-teman ribut sebentar sebelum masuk), akan ada perubahan mendasar dari kebun binatang tersebut; namun, tentu saja itu opini yang amat naïf. Pemandangan yang pertama menyambut saya adalah bangunan Rumah Kapal yang remuk redam akibat gempa dan belum diperbaiki; selanjutnya, kandang-kandang hewan yang begitu mengenaskan. Bau kotoran binatang sesekali mengudara cukup lama, air di kolamnya sekeruh kali di kala kemarau, dan kandangnya tampak kotor.

Hewan-hewannya pun tampak merana—dan untuk pertama kalinya, saya menyadari sepenuhnya apa yang dimaksud C.S. Lewis sebagai ‘binatang bodoh’ dalam serial novel Chronicles of Narnia. Sayang sekali, C.S. Lewis tidak menambahkan frasa ‘manusia bodoh’, yaitu manusia-manusia yang begitu bodohnya hingga melempari hewan-hewan (bahkan harimau) dengan kacang, merusak sangkar kakatua jambul kuning, dan mengetuk-etuk kandang iguana. Memang menyakitkannya melihat hewan-hewan tersebut dipenjara dalam kebun binatang yang tampak kumuh tersebut, tetapi lebih menyakitkan lagi melihat manusia—yang secara intelektual lebih cerdas dari mereka yang ada di kandang—melakukan tindakan-tindakan brutal tanpa moral tersebut. Oleh karena itu, saya berpesan kepada pembaca, jika Anda tidak tahu bagaimana memperlakukan binatang dengan baik, jangan pernah pergi ke kebun binatang.

Tetapi, singkat cerita, akhirnya kami tiba di lapngan tempat unta-unta tunggangan berada. Namun, sekali lagi, satu pertanda buruk—loketnya tutup. Tutup. TUTUP. Was was, saya bertanya dengan bapak-bapak pemberi makan unta, kapankah loketnya buka? Bapak itu menjawab dengan begitu acuh, hingga saya curiga Betty si Orangutan mampu mengekspresikannya dengan lebih impresif: “Jam sepuluhan mungkin bukanya.”

Ya Allah ya Rabbi. JAM SEPULUH??? Padahal waktu itu sudah menunjukkan pukul 09.38, mundur satu jam dari waktu seharusnya. Padahal kami ada jadwal pemotretan di Taman Pintar pukul 10.00! Padahal, sahabat saya satu lagi, Bari’ alias Muhammad Farras Bari’zain, sudah menelepon saya bahwa dia sudah berada di Taman Pintar! Dan kami harus menunggu 22 menit lagi? Oh, Gembiraloka, you must be joking. Tetapi, didukung oleh teman-teman saya, dan Dhela, Icha, Okka, serta kemara SLR milik Dhela sebagai mahapenyelamat, saya memutuskan untuk menunggu. Dan menunggu. Hingga jam saya menunjukkan pukul 10.06. Padahal tidak ada tanda-tanda loket akan dibuka.

Maka saya berjalan, bersama Ratih, ke loket suvenir atraksi Menunggang Unta, untuk menanyakan tepatnya waktu pembukaan atraksi. Kami disambut oleh bapak-bapak yang, untungnya, ramah, namun jawaban mereka sungguh menusuk hati kami: “Loketnya buka jam setengah sebelas, dek.”
SETENGAH SEBELAS. THAT’S A PERFECT FORMULA TO RUIN MY WHOLE-DAY SCHEDULE.
Maka kami menanti, dengan teman-teman saya (dengan seenak udel perut mereka) justru foto-foto dengan gembira, sementara saya foto-foto dengan kupu-kupu di dalam perut saya, dan sebelah tangan berusaha menenangkan Nahal serta Bari’ yang sudah menanti di Taman Pintar. Akhirnya, tibalah jam 10.20. Setelah ribut mengenai biaya (karena kami belum mendapat komisi dari kas kelas yang akan dibagikan, dan tidak semua anak membawa uang, kurang ajarnya), dan ribut mengenai pembagian foto (karena Haidar hanya membawa dua gamis untuk tiga anak), maka kami mendandani Haidar dan Akbar duluan di depan lapangan unta. Bukan di kamar mandi; tetapi di depan lapangan unta, dengan semua mata tertuju pada mereka.

Lalu, tibalah saatnya: loket dibuka. It’s showtime!

Dengan tepuk tangan riuh dari panitia, Haidar dan Akbar pun meniti tangga menuju punggung unta. Haidar sempat susah payah naik ke punggung unta—tetapi akhirnya mereka pun naik ke punggung unta. Mas Handy masuk ke dalam arena lapangan unta untuk memotret mereka—tapi, si pawang unta, tidak mendengarkan teriakan mencegah dari kami panitia, justru mengarak Haidar dan Akbar dengan unta berkeliling lapangan.

Kontan kami tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal luar biasa—saya sampai keluar airmatanya! Bagaimana tidak? Orang-orang yang lewat segera menoleh ke lapangan unta saat melihat dua remaja berumur lima belas tahun menunggang unta di tengah Kebun Binatang Gembiraloka seperti anak-anak, diarak mengelilingi lapangan unta. Mereka yang semula sudah menyilangkan jari di kepala saat melihat Haidar dan Akbar memakai kafiyeh, segera berhenti dan berjajar di depan lapangan unta demi melihat keduanya beratraksi menjadi Bedouin-wannabe. Sungguh, saya benar-benar tidak dapat membayangkan malunya kedua anak itu, saat mereka menjadi badut mendadak.

Kami tertawa dan menyoraki keduanya dengan “Allahu Akbar!” “Labaikallahumma labaik!” seakan-akan keduanya adalah peserta haji abad ke-XIX—tepat ketika saya menoleh ke kanan dan menelan ludah. Di seberang lapangan unta, menatap Haidar dan Akbar dengan tertegun, adalah pasangan suami-istri Islam syi’ah—si suami memakai baju gamis dan si istri mengenakan baju bercadarnya. Oh God. Salah seorang dari kami melihat keduanya, berbisik, “Eh, yang asli datang!” dan seketika semua panitia menoleh.

Ya ampun, betapa malunya kami! Saya membayangkan pasutri dan putera mereka tersebut pasti luar biasa takjub melihat Haidar dan Akbar, seakan-akan penampilan mereka sedang diolok-olok di tengah Gembiraloka; dan betapa mereka amat murka. Salah seorang dari panitia justru nyeletuk, “Waduh! Kalo mereka marah terus ngebom Gembiraloka piye coba?” Kami buru-buru gaduh, menutup muka dan menyembunyikan diri dari pandangan, menyingkir dari lapangan unta, berpura-pura tidak kenal Haidar.

Namun pada saat itu untanya justru berhenti (sialnya) di dekat kami, dan kami terpaksa menyambut Haidar dengan muka merah padam. Tidak terbayangkan betapa malunya kami. Mas Handy segera mengambil kamera, memotret Haidar dan Akbar, dan inilah salah satu hasil jepretan Mas Handy:
Dan kemudian, tibalah giliran primadona kami—Simbah alias Luthfi!

Kami segera riuh, dan buru-buru memakaikan baju gamis dan kafiyeh milik Haidar ke Luthfi. Tapi Luthfi anak yang amat sangat jaim dan galak dan bawel, dan dia sudah mulai panik dan berusaha mengulur waktu.

LUTHFI : “Ini aku ganti baju sekarang apa nanti?”
SAYA : “Udah sekarang aja, cepetan to! Kasian yang udah nunggu di Taman Pintar!”
LUTHFI : (Menunjuk kafiyeh) “Ha tapi ini pake kafiyeh nya gimana?”
SAYA : “Kayak Haidar aja ya, gini aja yang simpel, gausah rewel deh, kelamaan!”
LUTHFI : (Kelabakan ngubet-ubet kafiyeh) “Lha tapi ini copot-copot e, Kib! Nah, ini malah berkibar-kibar gimana…”
SAYA : “RIBUT AMAT SIH MBAH??? Udah sana naik, entar keburu direbut orang giliranmu!”
LUTHFI : “Tapi aku entar diputer-puterin enggak? Mbok enggak usah aja ya?”
SAYA : “Haidar sama Akbar aja berani, lagian man eman, ini sekali naik sepuluh ribu masa mau diem?? Udah naik aja!”
LUTHFI : (Bolak-balik nggak jelas) “Aduh, itu dah ada yang di atas—nah, ini dateng satu lagi, terus gimana?”
SAYA : “YA ALLAH YA RABBI, MAKANYA KAMU LANGSUNG SANA NAIK UNTANYA HABIS INI!!!”

Jadi, Luthfi yang serba kikuk dan menahan malu itu pun naik tangga ke punggung unta. Tapi, kami segera panik saat Luthfi justru nyungsep di celah antara tangga dan unta, terjepit di tengah-tengahnya, tidak bisa naik ke punggung unta maupun kembali ke tangga. Kebingungan dan panik, Luthfi mondar-mandir di celah itu, kehabisan akal—hingga akhirnya pawang untanya menolong Luthfi naik unta. Pada saat itulah kafiyeh Luthfi jatuh—dan unta mulai berjalan. Kami sudah panik—pawangnya dengan terburu-buru mengembalikan kafiyeh, dan seraya menunggang unta, Luthfi membetulkan kafiyehnya.

Kami segera bersorak! Sungguh, saya tertawa-tawa melihat Luthfi di atas unta. Benar-benar persis seorang kakek 60 tahun menunggang unta, menyusuri Saudi Arabia untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 1800-an! Makin banyak pengunjung berkerumun untuk menyaksikan Luthfi. Beberapa di antara mereka tersenyum-senyum. Sementara Luthfi? Jangan diributkan, ia sedang menunggang unta dengan muka semerah padam udang rebus.

Tepat pada saat itu, datanglah seromobongan ibu-ibu berkerudung dengan keluarga besar mereka, tampaknya rombongan piknik ibu-ibu pengajian. Mereka menoleh ke arah Luthfi dan tertawa—dan kemudian, mendadak, serentak mereka mengeluarkan kamera digital untuk memotret Luthfi! Astaga! Luthfi dikira atraksi Orang-gila-bergamis-dan-berkafiyeh-naik-unta-purapura-jadi-Arab! Saya tidak bisa lagi menahan tawa saat orang-orang sibuk mengabadikan Luthfi dengan kamera digital dan ponsel. Sungguh, melihat Luthfi yang diam seribu satu kata, tak berkutik, pastilah sahabat saya itu malu luar biasa.

Maka, setelah Mas Handy memotret Luthfi, saat Luthfi turun dari punggung unta dan berjalan ke arah kami, kami segera bertepuk tangan riuh dan bersorak memberi selamat. Saya sungguh salut dengan Luthfi, serta Haidar dan Akbar, melihat sikap tenang mereka menghadapi para pengunjung Gembiraloka lainnya—walaupun itu 80% karena malu bagi Luthfi dan Akbar, serta 80% karena tidak tahu malu bagi Haidar. Kami membantu Luthfi melepaskan baju gamis dan kafiyehnya, dan segera memberi selamat bagi Luthfi, karena, sungguh, fotonya adalah foto terbaik hari itu menurut saya.

Kemudian, bersama-sama kami berjalan menuju lapangan parkir untuk pergi ke Taman Pintar. Sesi USA2 sudah menunggu sejak 1,5 jam yang lalu, dan saya tidak sabar ingin tahu, kejutan seperti apa yang akan kami temui selanjutnya—ataukah kemalangan yang kami temui?

Sunday, March 8, 2009

Lagi-lagi, Tidak Ada yang Romantis dari Hujan

Sebenarnya saya belum terlalu mood menulis... tapi kalau ini ditunda-tunda terus, gimana aku mau nyeritain Safari Jurnalistik? Jadi, ini poin-poin penting yang harus Anda ketahui.


***


Tanggal 2 Maret 2009.
Saya pulang dari sekolah pada pukul 15.00 WIB setelah latihan musik. Meskipun begitu, akibat kebodohan teman saya, si XXXX sialan itu, kami tidak jadi latihan di studio musik!!! Mengapa? Karena masnya penjaga sudah pulang dan teman saya tersebut lupi untuk meminta kunci studio. Padahal, dia dan kroni-kroninya itu sudah sibuk nyinyir dengan bibir mereka yang pengin saya jepit pakai jepitan jemuran: "Jangan makan dulu! Latihan musik dulu! JANGAN MAKAN!"
Dasar gila mereka itu. DILARANG MAKAN? Ingin sekali saya tampar mereka sambil berteriak, "Wooi, hari udah siang, bangun dong! Hari gini gak boleh makan? Kalian mau aku laporin ke Komnas HAM?"
Saya dan beberapa teman saya murka luar biasa atas keputusan sepihak ini. Siapa mereka, sembarangan saja melarang orang? Kalau tahu-tahu salah satu dari kita mendadak mati kelaparan, apa mereka mau nanggung. Dengan semangat '45 yang menggebu-gebu, kami melancarkan pemberontakan besar-besaran: dengan nekatnya kami makan seraya tidak memedulikan apa kata XXXX dan Kroninya itu. Sungguh mengejutkan, simpatisan pendukung revolusi ini ternyata banyak, dan akhirnya berkembang menjadi kudeta. Seluruh anggota kelompok akhirnya makan dan pemerintahan otoriter XXXX dan Kroninya pun jatuh ke dalam liang eek kucing.
Tapi ya itu tadi hasilnya... Masnya keburu pulang. Saya pun akhirnya juga pulang. Latihan musik gagal.


5 Maret 2009.
Kami akhirnya latihan musik lagi. Tidak di studio yang sudah di-booking pihak lainya (Sebel deh saya jadinya... Emosi terus!!!). Dengan meksonya kami latihan di aula. Namun justru si XXXX hilang begitupun anak-anak lainnya. Maka saya memilih mengikuti rapat OSIS dahulu... yang ternyata juga berlangsung di Aula. Bahkan meskipun saya telat sepuluh menit, para pengurus inti menobatkan saya sebagai salah satu anggota yang datang tepat waktu (nyahaha... terima kasih Dheru, Anda amat baik sekali... lebih baik dari Pak Amat, malah...) dan dipisahkan dari Kelompok Anak Terlambat. Si XXXX beserta anggota gengnya yang aneh itu ternyata termasuk terlambat, dan akhirnya mereka pun dibentak-bentak oleh Nyai Marendita.
Rapat pun berlalu... jam dua, melihat perkembangan rapat yang sudah mulai tidak produktif, saya meminta ijin untuk lain. Loading... dan dalam dua detik, access accepted. Saya pun akhirnya mulai bergabung dengan kelompok musik dan dengan suara saya yang rada gerok akibat serangan flu, mulai menjalankan tugas saya sebagai vokalis.

(Satu pertanyaan besar yang muncul adalah, mengapa semua koran tanggal 6 Maret 2009 tidak ada yang berheadline "AULA SMP N 5 YOGYAKARTA RUNTUH MENDADAK: Diduga Terkait Aktivitas Gelombang Supermegaultrasonik dari Suara Setan Seorang Murid")

Akhirnya tugas musik selesai... Saya pulang setelah jemputan saya yang berwarna kuning datang. Saya pun membayar upah Rp 1.500,00 kepada asisten supir saya, dan sementara kendaraan besar itu melaju, saya mulai merasa waswas: Akankah hari ini hujan, mengingat mega mendung mengerikan sudah berkerumun di langit sedari tadi?
Tapi saya berhasil mencapai kediaman saya sebelum hujan sempat turun. Waktu menunjukkan pukul 15.30--itu berarti, saya masih sempat mengejar waktu untuk les. Jangan lupa, hari itu hari kamis, sehingga saya harus mengikuti lembimjar Neutron.
Air hangat dengan campuran sirih dan serai sebagai obat alergi pun akhirnya siap. Saya cebar-cebur di kamar mandi, menyanyi dengan suara yang mengguncang dunia (harap dipahami secara denotatif), serta berlagak seakan saya penyanyi yang telah menaklukkan dunia (dalam pemahaman cara yang cenderung destruktif). Dan segera semuanya selesai.
Sepeda dikeluarkan, saya bersiap menggenjot...
...tapi akhirnya hujan turun.
WAAAA. TIDAAAK. Satu hal yang paling tidak saya inginkan sekarang adalah berhujan-hujanan lagi, tidak setelah kejadian dalam post Tidak Ada yang Romantis dari Hujan. Saya berniat membolos, tetapi teringat bahwa saya sudah membolos lima kali; dan itu berarti, kakak saya yang lambanluarbiasa, nyinyirtiadatara, dan sokketattanpaampun itu tidak akan memperbolehkan saya.
Benarlah, saat saya berkonsultasi, bahkan sebelum selesai ia memotong dengan suaranya yang membuat tikus merinding: "Ora entuk! Kowe wis mbolos ping lima! Nganggo mantel lak ya isa, tha?"
Kemarahan yang mengikuti tiada terkira. Sungguh, ingin sekali saya balas berseru, "Dasar tjah klemat-klemet, mbok ya kowe ki nyadar yen ora penak ngepit pas udan-udan! Wis raine teles, angine ngabul-abulake mantel, ngelek banyu udan maneh! Dasar tjah sing pikirane sempit!" dan ribuan serapah yang tidak sepantasnya ditulis disini, mengingat blog saya nanti bisa-bisa dihapus oleh pengawas pemerintah akibat memuat hal-hal tidak senonoh (kok bahasanya nggak enak sih?).
Seraya bersungut-sungut akibat marah luar biasa, saya segera menarik mantel dan mengenakannya, kemudian mulai bersepeda. Saya tidak mau mendeskripsikan kejadiannya: kurang lebih sama, bahkan dalam beberapa hal cenderung lebih mengerikan daripada deskripsi dalam post Tidak Ada yang Romantis dari Hujan mengingat saya sedang flu; kecuali bagian bahwa tas saya bodhol karena memang saya sudah ganti tas.
Saya memang tiba di Neutron dengan selamat, tapi kakak saya dengan kebodohannya telah menyebabkan celaka pada saya: sementara tubuh masih basah, AC dalam kelas masih bertiup, dan hasilnya adalah...

FLU. TOTAL. BUKAN CUMA ALERGI: FLU. TOTAL. LENGKAP DENGAN BATUK, PUSING, DEMAM, DAN TETEK BENGEK LAINNYA.

Sambil menahan segala kemurkaan dan hasrat-ingin-ngumbel saya pun mengutuk kakak saya tersebut, berharap ia mendapat balasan yang setimpal atas apa yang ia dapatkan. Sepanjang pelajaran di Neutron itu saya tidak henti-hentinya bersin, batuk, serta ragam flu lainnya, menyebabkan saya menjadi sasaran tawa dan gunjingan menghina segelintir orang, yang dimaksudkan diam-diam, namun justru jadi diketahui oleh umum (Hukumlah pula para penghina ini dengan azab-Mu, Ya Rabbi...)
Bel pulang berbunyi. Hujan sudah berhenti sepenuhnya dan saya pulang--perjalanan pulang paling tidak mengenakkan sedunia. Bayangkan, saya sudah tidak dapat konsentrasi sedikitpun dalam menyetir!!! Setidaknya tiga kali saya hampir menabrak pohon, atau orang, atau kejeglong lubang, atau keblasuk ke jalan rusak, atau jatuh kejlungup dari sepeda. Sengsaranya tiada terkira. Dalam hati, saya menduga, orang-orang yang melihat saya pasti membatin, "Ini anak naik sepeda kok sambil mabox..."
Setelah bersusah payah menyeberang jalan, saya melalui sebuah gang kecil yang membawa saya menuju jalan pintas ke belakang perumahan saya. Saya berhenti di sebuah toko untuk membeli spidol hitam. Di sini, saya mulai mendapat Sindrom Bersinus Kayaus Topanus Plus Lesus. Dengan sangat tidak konsentrasinya saya memarkir sepeda, yang langsung ambruk; kemudian mencari-cari dompet yang ternyata berada di dalam kantong. Bahkan saat memilih spidol saya masih bersin, dan dengan malu saya mendapati penjualnya menatap saya dengan iba.
Batinnya, "Aduh, ini anak kasihan sekali, udah teler sampai sekarat kok ya malah beli spidol bukannya obat, apa umbelnya sudah mempengaruhi otak..."
Dengan tidak peduli saya pun tetap membeli spidol. Kembali ke sepeda, saya segera menaikinya sebelum menyadari bahwa sepeda masih dikunci. MALU BANGET DEH, APALAGI DILIHATIN SAMA BAPAK-IBUNYA PEMILIK TOKO. Jadi saya mencari kunci, yang berada di dompet; kemudian mendapati dompet saya tidak ada di bagian dalam tas; maupun bagian depan tas; dan ternyata cuma di saku saya.
(Bapak-ibu pemilik toko: "Ya Allah, tolong berilah ketabahan kepada anak ini, serta kesembuhan baginya, supaya otaknya bisa bersih dari umbel dan ia kembali kepada konsentrasi yang lurus...")
Akhir kata, saya mengayuh sepeda untuk segera pulang. Perjalanan pulang masih sama tidak masuk akalnya dengan perjalanan sebelumnya, sama-sama keblasuk, kejeglong, kejlungup. Dan apa yang menanti di rumah?
Sekali lagi, "Pite dilebokake garasi wetan! Sepedanya dimasukkan garasi timur!"
Murka luar biasa--tapi saya tidak berani menolak karena yang bicara adalah bapak saya. Dengan mutungnya saya menaruh sepeda di garasi--tepatnya membanting sepeda di garasi--dan segera melepaskan segala mantel basah sialan dan properti kuyup lainnya. Dan saya segera naik ke kamar, membiarkan diri saya teriak-teriak murka tidak jelas.
(Ibu saya: "Ya Allah, ada apa dengan anakku? Setan apa yang menyambet dirinya? Sadarkanlah ia, Ya Rabbi!")

Apapun yang mungkin dibayangkan oleh orang-orang yang mendapati saya dalam keadaan setengah-histeris, setengah-gila, setengah-teler, dan seratus-persen-penuh-umbel-dan-flu, kakak saya telah menjatuhkan efek kebodohannya kepada saya:
FLU TOTAL
, BUKAN CUMA FLU ALERGI, LENGKAP DENGAN BATUK, PANAS, KECAPEKAN, DAN SEGALA PROPERTI FLU TOTAL LAINNYA.

Sebuah malapetaka sempurna untuk anak yang akan mengikuti Safari Jurnalistik.
Dan dalam kondisi seperti itulah, penuh ingus dan seratus persen flu, saya memulai petualangan saya di Dinas P dan P dalam sebuah Safari Jurnalistik.

Thursday, February 26, 2009

Tidak Ada yang Romantis dari Hujan

Inilah yang terjadi pada saya sore ini.
Jadi ceritanya begini. Hari ini saya ada les di Neutron, jam 4 sore. Karena tidak ada yang mengantar, seperti biasa saya harus bersepeda. Seperti biasa pula saya selalu membawa mantel ayah saya yang notabene kebesaran walaupun konon benar-benar manjur dalam hal antiair. Maka, setelah mandi dan merasa sudah cakep, maka saya pun mengayuh itu sepeda menuju jalan raya, langsung ke arah Neutron.
Tetapi, pemandangan yang saya lihat sungguh mengerikan. Di langit, bukannya cerah seperti yang saya lihat saat menjemur cucian, justru mendung bergumul-gumul seram. It's like Mordor is awakened in Jogja's sky. Dari dua arah pula: selatan dan utara. Saya sempat was-was, jangan-jangan nanti hujan? Namun, mengingat saya sudah empat kali membolos les, saya pun mengurungkan niat untuk berbalik pulang. Rasa waswas akan kemungkinan hujan dikalahkan rasa ngeri bila nantinya saya terpaksa menghadapi kemurkaan kakak perempuan saya yang nyinyir.
Di Neutron, saya selalu waswas. Sudah cukup beruntung, kelas saya ditaruh di lantai paling atas, sehingga bila hujan akan kelihatan. Tapi kemudian dipindah ke bawah... dan akhirnya, saya pun terpaksa menjadi "buta" terhadap cuaca di luar sana. Apakah hujan, ataukah terang? Entahlah. Dengan sok rajin saya berusaha memerhatikan pelajaran biologi yang gurunya bukan hanya membosankan (sampai kelas saya, yang selalu dikatakan biang rame dan pengganggu oleh mentor-mentor, sepiii... sekali, sampai jangkrik saja berbunyi) namun juga--aduh, maafkan saya bapak mentor--amit-amit--maaf sekali ya, pak--sungguh, ampunilah murid Anda ini...

(bapaknya bau keringat)

dan saya harus menahan itu semua--plus rasa mengantuk--hingga jam setengah enam. Akhirnya bel berbunyi, dan keluarlah saya. Dari pintu saya merasa melihat hujan. Namun karena saya menolak untuk mengakuinya, saya pun buru-buru keluar.
Dan... Oh, Tuhan! Astaghfirullah! TERNYATA MEMANG HUJAN!!!
Padahal, sekali lagi saya ingatkan, saya berangkat bersepeda. Mungkin orangtua saya sudah pulang, namun tetap saja, kalau dijemput, mau diapakan sepeda saya? Tetap, satu-satunya jalan terbaik adalah pulang sendiri. Maka, seraya mengucap basmalah agar tidak kehujanan parah, saya pun memakai mantel bapak saya dan mengayuh sepeda.
Dan tahu, nggak? Baru mau menyeberang saja tudung mantel tersebut sudah melorot menutupi mata; celana saya dan semua bagian tak bermantel basah koejoep; dan saya kedinginan.
Dengan sekuat tenaga saya menghadapi guyuran zat cair yang intensitasnya bisa membuat penduduk Gunungkidul sujud syukur di kala kemarau. Saya bisa menahan tudung yang selalu menutupi pandangan maupun guyuran air di mata yang kadang-kadang nyaris menyelinap ke dalam kerongkongan. Namun, yang kurangajar, ternyata kancing mantel itu tidak rapat! Hasilnya, bagian paha saya tidak terlindungi. Padahal tas samping dari Bobo yang saya kenakan sepanjang paha tersebut.
Apa yang terjadi? Double malapetaka: buku saya basah dengan parahnya; dan tas Bobo saya bodol.

Entah seberapa paniknya saya. Bayangkan! Sementara hujan menghalangi pandangan saya, membasahi seluruh tubuh, dengan kendaraan bermotor yang lalu lalang sama paniknya seperti saya dan membuat saya lebih panik lagi, saya harus dibuat tambah panik dengan ketakutan akan tas Bobo yang semakin jebol dan menjatuhkan isinya ke aspal. Kemungkinan efeknya hanya dua: buku saya basah, hanyut, dan rusak; atau dilindas mobil dengan tenangnya.
Malapetaka ekstra. Ultra. Mega.
Dengan segenap usaha saya berusaha menahan tas Bobo itu sambil bersepeda; dan kadang-kadang, saya terpaksa mengancingkan kembali mantelnya. Sungguh, ujian psikis dan fisik. Saya jadi tambah heran dan tidak mengerti terhadap adegan dalam film-film Hollywood, yang menyuguhkan pemandangan romantis pasangan yang terguyur hujan. Astaga, apanya yang romantis coba? Sudah basah kuyup, diintimidasi kendaraan bermotor, buku dan tas rusak pula!
Aaargh! Rasanya saya ingin menjerit lepas!

...


Seperti itulah pengalaman saya bersepeda di jalan raya seraya menerjang hujan. GILA. Dan saya sampai-sampai harus tiga kali mampir di emperan toko untuk membetulkan mantel sialan itu. Dan juga membetulkan posisi tas Bobo yang bodol.
Untung kalau cuma itu...
Anda tahu apa yang menyambut saya di rumah? Saat saya menyelonongkan sepeda saya ke depan rumah, dengan santainya budhe saya berseru, "Pite dilebokke wetan--Sepedanya ditaruh di garasi timur!"
SIALAN. Sudah basah begini, harus memutar lagi hanya untuk menaruh sepeda? Dengan sangat tidak peduli saya balas membentak, dan justru membanting sepeda saya. Hasilnya? Pot tanaman cuil. Dan budhe saya tambah membentak lagi.
Saya meninggalkannya hanya untuk mendapati ibu saya berkata bahwa bapak saya sedang menjemput.
HAAAAH??? Aduh, apa yang harus saya lakukan. Dengan tergesa saya meminta tolong kakak saya yang lamban untuk memberitahu bapak saya sudah pulang--tapi dasar lamban. Akhirnya, meski saya ingin sekali lekas berganti baju dan mencopot segala barang basah dari tubuh saya, saya bergegas menuju telepon dan memberitahu bapak bahwa saya sudah pulang.
Anda tahu, apa yang dilakukan kakak saya waktu itu? Minum air putih.
Menyebalkan sekali! Dengan mutung saya naik ke kamar saya di atas, mencopot baju dan celana dan tas bodol ke dalam bak cucian serta menjemur buku-buku basah di bawah kipas angin. Sungguh, saya mutung sekali! Saya berganti baju dan diam di sana hingga maghrib.

***

Apa kesimpulan yang didapat di sini? Tentu saja, seperti judul post ini, TIDAK ADA YANG ROMANTIS DARI HUJAN. Terserah para sutradara maupun penulis skenario Hollywood mau bicara apa, tapi saya tidak percaya. Karena saya sudah mengalaminya. Dan apa yang saya dapat sekarang?
Kepala pusing dan tubuh kedinginan.