Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, January 2, 2013

Art (Without) Politics.





First of all, I did not speak as a member of any educational institution here. This article was written down based on my concern as a single person and an art devotee. The cause of this article was a Twitwar incident happened in the evening of January 2nd, 2013.

The Twitwar was between by two state senior high schools in Jogjakarta city, let’s call them School A and Schol B. Both will hold an art appreciaton event, an event which was pioneered by school A. The Twitwar started when School B promoted their newly-made art event. A student of school B satired school A's event; school A reacts harshly and stating their originality.

Here I want to mention a mural I saw on another art event, the Indonesian Comic Festival, held at Jogja National Museum, that I visited in the late December. The mural write a sentence that instantly catched my eye. It wrote, "No politic allowed in this place."

I love the words because I think it summed up everything about art. Art is not about power, control, or political agenda. Art is simply about beauty and joy; about appreciating the beauty and come in its joy. That is why true art differs from propaganda. The true agenda of art is only about spreading beauty and nothing about gaining control over anything.

In the 2012 conference of Federation of Asian Cultural Promotion, the artists agreed that no art may contain any political agenda. Art is regarded as a universal language that may not be used to promote certain political ideology. This had been the consensus for at least Asian artist -- and a spirit that the earlier mural embraced.

Thus, the Twitwar was totally ironic. Both events stand for the apprecation of art, but they compete each other in an unhealthy way. They compete each other in the matter of promotion and gaining audience -- but in this case, both had also lost their focus in the essence of art. Art is about togetherness, where people blend together under the concept of beauty without considering any political, gender, religious labels. The Twitwar was an irony as it actually torn people apart.

Yes, indeed I am a student in the School B. But yes, I am a big fan of School A's art event. I was totally amazed by their bravery to hold such event for high school student audience, at the time when such event was not so popular. But they kept it going on and I must say that it still rocks. As a pioneer, they totally nailed it.

So it made me totally deplored of the way some people treat others in the twitwar. Satiring others is not a good promotion. It is a sad and shameful act of arrogance. Whether it is the newbie gloating their arrogance nor the pioneer insisting their superiority, such tweets only show how unprofessional the tweeps are. Compete well, but compete good. We don't need any other Twitwar as we can compete professionally.

I have tried to be objective and label myself only as an art devotee in this post. I did not carry any agenda to put any institution first. This solely my opinion and did not purposedly reflect the perspective of any institution that I joined in. 

I can only say that both event will put their differences aside and put their likeness first. Both events are forms of art appreciation which, though stand individually, have the same purpose. In the end, it is all about being unite in art and embracing beauty together; without any label, without politics.


Goodluck to Delayota Art. Goodluck to Padmanaba DedicArt. With all my respect and support.

Friday, December 14, 2012

Someday, Today.



 One day, that "someday" will be "today". :') | Tweeted December 15th, 2012.

I won't lie. I never satisfied of things I have got and always wanted for more.

I just can not stand it. Everytime I see those photographs, pictures... it reminds me of how I wanted so much to be like them. I just can not stand it to feel envious everytime I see people achieve more than I do. Got their names credited in fashion photographs. Got their face printed on the magazine covers. Got their name headlined in a lifestyle magazine. Got their artwork published in the blog.

I want to be like these people I admire... These people, who accidentally, so close to me in the real life. Sering kehidupan kami bersinggungan dengan cara yang unik. Saya mengenalnya dan ia mengenal saya. Namun, kami berbeda. Mereka berhasil achieve many things that I would also like to do! Mengapa saya tidak? Apakah saya kalah dengannya?
I know I can do those things, too. But why couldn't I? Why didn't I get the chance?

Some people told me to be gratituous. Well I am being gratituous. For all the good things happened in my life: menjadi sutradara Antigone; diberi kesempatan siaran di Zona Pelajar dan bertemu so many great individuals; memiliki banyak teman di sekolah and have my voice listened; bisa mendesain secara profesional and being paid... (I am so sorry, but honestly I don't even try to brag). These are my achievements and I am totally thank God for giving me these.

But what is life if you only stucked in a place and never moving forward? Saya tidak akan berbohong. Saya juga ingin mencipta banyak hal. Make some paintings. Write some novels. Shoot some photographs.

Saya berpikir, masalah saya sekarang justru karena saya dream too big. I just read a line in a magazine, "Start simple, start small, but start now." While I don't know whether today is a good day to start. But do I have time? People keep telling me, "Study. Study. Study."... My bestie told me to be focused on the exam because there is no time; my teacher told me that I still have plenty of hours to make some art. Whom should I trust? 

Well, you can almost say, "It all depends on you. Can you do two things at once?" While I do not even know my ability. Could I? I need to be convinced. Because I want to start now. Orang-orang selalu berkata, mulailah selagi muda. Saya masih muda dan saya mau memulai. Saya hanya berharap diberi some courage to start today.


***

Resolution time: I need to convinve myself to be braver and take some risk. Well, maybe I will not found any empowerment from my friends, but I know I will have courage from God. To start, to progress, and to achive.

Let's make "today" becoming that "one day".

Thursday, May 10, 2012

Enlightened #1


God is nothing. Tuhan itu tiada.


In the end, good men will leave their religion, disgusted by those done crimes under His name.
"Orang-orang baik akan meninggalkan agama, karena munafik yang mengatasnamakan nama-Nya."


But good men, still, don't lose their faith.
Namun, orang-orang baik, tidak akan meninggalkan keyakinan mereka. 
          God is out of the borders of religion
          Tuhan tidak terbatasi agama.
Because when there is no faith, there is. God only existed when, where, He doesn't existed.
Tuhan ada dalam ketiadaan. Dalam dalam ketidakpercayaan, Ia nyata; dalam penyangkalan, Ia terbukti.



God is out of everything, yet around.
Tuhan di luar segala. Tuhan juga di dalam segala.


          He is questionnable. Therefore His acts are unquestionnable.
               Keberadaan Tuhan dapat dipertanyakan; maka, tindakan Tuhan tidak terbantahkan.


                    God is peace. Those who did not the act of peace, did not God's will. Religious or not.
                    Tuhan itu damai. Yang tidak berlaku damai, tidak melakukan fitrah kehendak Tuhan. Beragama atau tidak.



Know the God who dwells inside your mind, then you'll know the God whe dwells above your world...
Ketahui Tuhan di dalam-mu; maka akan kau ketahui Tuhan di atas-mu...
          ...And know the God first before you live. If you do not, you do not have the right to.
          ...Dan ketahui Tuhan sebelum kau hidup, karena apabila tidak, kau tidak berhak mendapatkan hidup.



God is nothing. Therefore, God is everything.
Tuhan itu tidak ada. Karena itulah, Tuhan itu ada. 

Sunday, January 16, 2011

Resolusi Tahun Baru


Januari 2011 sudah habis separuh dan saya baru menuliskan resolusi tahun baru saya. Beberapa orang akan berkata, "Hey, kau terlambat." Namun, saya percaya bahwa untuk bermimpi dan berubah tidak pernah terlambat.

Jadi, mengenai resolusi 2011...
Membahas mengenai resolusi 2011, tidak lepas dari hal-hal yang telah saya lakukan di tahun 2010. Harus saya akui bahwa saya mengalami banyak perubahan di tahun 2011. Pergantian dari SMP ke SMA, tidak dapat dipungkiri, adalah sebuah transisi yang amat berpengaruh dalam kehidupan saya. Ada banyak keputusan yang harus diambil, ada banyak perubahan yang harus dibuat.
Sejujurnya, 2010 adalah tahun yang sangat berat bagi saya. Ada banyak tekanan dari berbagai aspek kehidupan saya yang benar-benar merobohkan pondasi benteng kehidupan saya. Dinding-dinding yang saya bangun selama 16 tahun kehidupan saya remuk redam, tercerabut hingga ke akar-akarnya. Saya benar-benar mengalami apa yang orang-orang sebut “rollercoaster phase”—diangkat setinggi-tingginya, kemudian dihunjamkan ke tanah. Saya seperti orang hilang—tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa teman, tanpa pedoman.
Di tahun 2010, saya benar-benar kehilangan pegangan.
Tetapi, justru kini saya menyadari bahwa penghancuran tersebut penting. Benteng perlindungan saya memang perlu dirobohkan. Mengapa? Karena kini saya sudah berada di dunia yang jauh berbeda dari dunia saya 15 tahun lalu: saya berada di ambang dunia kedewasaan, di mana saya harus meninggalkan semua proteksi imajinasi masa kecil dan melangkah menghadapi dunia nyata. Saya harus keluar dari rumah kerang saya, saya harus pergi dari benteng saya; semua agar saya benar-benar tumbuh menjadi manusia dewasa sebijaksana dan sematang mungkin.
2010 adalah perobohan. 2011 adalah pembangunan kembali. Tahun ini adalah tahun megatransisi. Di tahun inilah saya akan—dan harus—membangun pondasi bagi bentuk saya di masa-masa mendatang. Sekarang saya harus mematangkan segala pembelajaran yang saya dapatkan selama 1994-2010 serta mengadaptasikannya dalam kehidupan saya yang baru.
Oleh karena itu, langkah pertama yang saya lakukan untuk mengawali pembangunan benteng saya adalah dengan mengosongkan resolusi 2011 saya.
Saya membuat begitu banyak resolusi di 2010. Beberapa berhasil; namun, banyak yang tidak. Bukan berarti saya tidak mensyukuri pencapaian-pencapaian saya, yang tidak bisa dibilang sederhana. Namun, memang itu kenyataannya. Ironis bahwa, sekarang, saya menyadari bahwa hal-hal tersebut tidak terkabul justru karena saya terlalu memikirkannya; membicarakannya; mengejarnya. Istilah gamblangnya, menjadikan mimpi saya tersebut beban—sesuatu yang amat bertentangan dengan kepribadian saya sebagai manusia bebas. Maka, alam bawah sadar saya menentangnya; dan tiada tercapailah mimpi-mimpi tersebut.
Maka saya memutuskan untuk membiarkan semuanya mengalir. Saya akan membuat berbagai rencana, saya akan menjalani berbagai kegiatan; namun, saya tidak akan mematok apapun. Just live it. Jalani apapun sesuai arusnya. Ibaratnya, saya tidak ingin melihat sejauh apa garis finish saya dan menargetkan waktu yang harus saya habiskan. Saya hanya akan berlari menyusuri rute saya, melakukan apapun semampu saya, dan baru melihat hasilnya di akhir. Saya akan membuang semua ambisi. Saya tidak ingin terbebani oleh standar perfeksionisme saya lagi.
Dan saya akan berhenti membiarkan orang lain mendistraksi saya. Tidak, saya akan menjadi diri saya sendiri kali ini. Saya yang akan memilih pilihan hidup saya; saya yang akan menjalaninya. Orang-orang boleh menggugat, mengkritik, dan menyarankan ribuan opini—itu hak mereka. Tetapi, kali ini, saya yang akan mengeksekusi semuanya.
I am the single player in my stage. Nobody shall rain in my parade. And if that makes me a bitch, then so what? Madonna said, “I'm tough, ambitious, and I know exactly what I want. If that makes me a bitch, okay.” If that is the definition of a bitch, then I have been a bitch since I was born—and I am willing to be a bitch until the day I die.
Itulah resolusi 2011 saya. Sebuah kesederhanaan. Hanya sebuah cita-cita dan komitmen, tanpa embel-embel yang membebani.
Untuk menjadi bebas.

Sunday, April 4, 2010

Rehat

Rehat. Itu satu hal yang sangat, sangat saya butuhkan sekarang. Tetapi, sayangnya, tidak bisa saya dapatkan.

Sumpah, pembaca, saya capai sekali mengikuti 4 hari Ujian Nasional tersebut. Rasanya seluruh tenaga saya terforsir untuk mengikuti UN. Ingin sekali saya rehat setidaknya tiga hari untuk memulihkan tenaga. Satu hari untuk memuaskan ledakan hasrat-ingin-
ngompi saya, satu hari untuk merelaksasi tubuh, satu hari untuk mempersiapkan diri demi persiapan Ujian Sekolah.

Tetapi,
oh, damn. Ada satu pihak yang tidak mengizinkan saya dan secara umum kami, para siswa, untuk relaksasi. Secara mengejutkan pihak itu adalah sekolah saya sendiri.

Hari Sabtu kami langsung diperintahkan untuk masuk sekolah. Bukan itu saja--kami diberi
empat belas paket soal latihan Ujian Sekolah dengan tujuh pelajaran yang berbeda. Masing-masing paket ada yang berisi lima puluh soal pilihan ganda, atau dua puluh lima soal pilihan ganda dengan sekian uraian.
Oh, God. Yang menakjubkan, kami hanya diberi waktu tiga hari tiga malam untuk mengerjakan soal tersebut. Itu pun termasuk pada hari Minggu ini, dan Jumat Agung kemarin, dua hari libur yang seharusnya digunakan untuk istirahat, bukannya mengerjakan soal! Dan hasilnya dikumpulkan besok Senin. BESOK SENIN!!! Ya, Tuhan...

Saya sungguh bingung dengan sekolah. Saya tahu bahwa Ujian Sekolah dilaksanakan kira-kira dua minggu lagi, tepatnya sekitar tanggal 12 April, dan bahwa kami hanya mempunyai waktu satu minggu untuk mempelajari materinya. Tetapi, tidakkah mereka juga mengerti, bahwa kami para murid juga membutuhkan waktu beristirahat?

Kami menyadari semua tanggung jawab kami, jujur, Bapak dan Ibu Guru. Namun, sungguh, kami butuh
rehat. Satu hari mungkin bisa saja cukup; namun, satu hari libur dengan beban 14 paket soal? Itu sama sekali bukan istirahat, mengingat satu paket paling cepat membutuhkan waktu setengah jam.

Itu sama saja tidak memberi kami waktu istirahat. Hasilnya, pembaca, saya dan teman-teman saya sama sekali
b tidak serius saat mengerjakan latihan tersebut. Saya survey, ternyata teman-teman saya nyaris sabodo dengan hasilnya. Kebanyakan nilainya tujuh, enam--sejauh ini saya paling bagus delapan. Eight, for God's sake! Belum lagi, soal Bahasa Jawa kuncinya jelas-jelas error. Ya Allah ya rabbi.

Saya menulis ini saat tengah depresi mengerjakan soal-soal tersebut, jadi jelas bahwa
post kali ini cacat di sana-sini. Post ini sebenarnya hanya chit-chat saya saja. Saya sebenarnya ingin mengkritik metode pembelajaran sekolah yang sangat memberatkan ini. Saya benar-benar kesal dengan metode pembelajaran yang berat sebelah, yang seperti dikatakan kakak saya, "Sangat mengejar nilai akademis tapi payah," dan hasilnya justru amat memberatkan murid. Sangat memberatkan.

Saya capek lahir batin. Jujur, saya ingin muntab, mencak-mencak di
post ini. Tetapi, mengingat ada kemungkinan sekolah saya terserang sindrom power-crazy seperti sekolah-sekolah lain, saya memutuskan untuk tidak misuh-misuh di post ini, mengingat sindrom tersebut dapat mengakibatkan dikeluarkannya saya dari sekolah.

Jadi, saya pikir sampai di sini dulu, lah,
post saya. Ini hanya sekadar curhat dari stres saya. Mungkin akan ada post sekuelnya, namun, entahlah. Saya sekarang harus kembali mengerjakan soalnya--saya hanya memiliki enam belas jam untuk menyelesaikan tugas tersebut tanpa tidur!

Semoga sekolah membaca, dan memahami bahwa mereka telah membuat keputusan yang salah, yang memberatkan murid dan tidak memberikan hasil optimal.

Thursday, April 1, 2010

Final Exam Aftermath

And now, at last, I can shout out loud, “AT LAST!”

Akhirnya, setelah berbulan-bulan tidak memainkan satu pun game; setelah satu bulan penuh tidak berhubungan dengan internet, baik melalui handphone maupun komputer; setelah kira-kira dua minggu berturut-turut tidak menyentuh komputer; dan terutama, setelah menghabiskan empat hari penuh konsentrasi, tekanan, dan kecemasan, saya berhasil menempuh Ujian Nasional tingkat SMP, insya Allah, dengan baik.

Ujian Nasional tingkat SMP dilaksanakan mulai dari tanggal 29 Maret – 1 April 2010. Empat hari, yang bukan hanya empat hari, karena 1095 hari pembelajaran saya di SMP diakumulasi dalam empat hari tersebut. Di empat hari tersebut saya akan menentukan nilai saya, untuk dijadikan acuan dalam masuk ke SMA mana nantinya—dan dengan begitu, menjadi acuan masa depan saya, karena SMA merupakan titik awal mulainya karir dan kehidupan dewasa sesorang—di SMA-lah, ditentukan, akankah saya sukses di masa depan. Oleh karena itu, tuntutan untuk menjalani empat hari ini dengan sempurna amat besar. Sungguh, empat hari yang meskipun hanya 96 jam saja, namun begitu melelahkan; emapt hari yang benar-benar menuntut perubahan mendasar dalam hidup saya. Perubahan dalam aspek paling fundamental, yang begitu berat hingga saya amat tertekan karenanya.

Saya harus belajar setiap saat: menelaah tiap catatan, mempelajari tiap buku, mengerjakan tiap soal, mengulang tiap pelajaran—suatu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bagi pembaca, mungkin hal ini terdengar lebay—namun, sungguh, hal itu berat. Tiap ada waktu, saya dituntut untuk memanfaatkannya demi dua hal—belajar atau istirahat. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada waktu untuk bermain, untuk dibuang percuma. Tiap hari Minggu saya mengikuti tryout bila ada; tiap sepulang sekolah saya lebih baik tidur daripada membuang energi untuk hal lainnya.

Ini berarti, saya juga tidak bisa menggunakan komputer dalam bentuk apapun. Padahal, betapa besarnya godaan untuk main komputer tersebut! Godaan ini adalah salah satu hal yang amat menekan saya. Saya, bisa dibilang, telah teradiksi komputer—sebelum satu bulan ini saya benar-benar tidak bisa lepas dari komputer, minimal tiga hari sekali saya harus menggunakan komputer, entah untuk hal apapun. Masalahnya, saya orangnya sangat rapuh—sekali saya main komputer, selanjutnya saya akan berkeinginan untuk menggunakannya lagi, lagi, dan lagi.

Hal itu dalam menjadi ganjalan bagi saya untuk belajar—oleh karena itu, tidak ada cara lain, saya harus melepaskan komputer, setidaknya satu bulan, dalam kehidupan saya. Dan itu sungguh, sungguh berat. Anda tidak bisa membayangkan betapa gatalnya jari saya untuk memainkan keyboard dan mouse; gatalnya pantat saya untuk duduk berjam-jam di depan komputer; gatalnya mata saya untuk menelan apapun yang ada di monitor. Otak saya pun juga gatal, begitu ingin menumpahkan tetek-bengek imajinasi saya yang sudah menggunung—mungkin itu sebabnya post ini tampaknya agak kacau-balau. Sungguh, pembaca, saya ingin meraung-raung akibat tekanan godaan ini: godaan untuk mengetik cerita, mengedit foto, membuat desain, bermain game, sekadar mendengarkan lagu, dan terutama browsing internet.

Saking gatalnya, saya nyaris bersumpah bahwa tepat setelah hari terakhir UN, hal pertama yang saya lakukan adalah pergi ke warnet dan melakukan hal-hal ini: update status Facebook; membuka video Lady Gaga dan Alicia Keys, minimal, di YouTube; posting di Blogspot; membuat minimal tiga desain baru di Looklet; melihat berita baru di Wikipedia; dan seabreg kegiatan lainnya.

***

Tetapi, pada hari post ini ditulis, tanggal 1 April 2010, saya nyatanya tidak browsing di internet. Pertanyaannya, mengapa? Saya tidak menemukan jawaban lain kecuali satu hal: saya sudah berubah. Sejujurnya, begitu besar perubahan saya dalam satu bulan ini.

Dalam satu bulan, saya dan sahabat saya memulai sebuah pertengkaran dengan seorang lagi sahabat saya yang berakhir fatal hingga sekarang. Saya, kadang-kadang, agak menyesali hal ini—namun, secara keseluruhan, saya tidak merasa bersalah. Apa yang kami lakukan demi kebaikan sahabat kami tersebut, jadi sungguh, saya sama sekali tidak keberatan kalau dia justru pergi meninggalkan kami, toh nyatanya hingga sekarang dia tidak mempertahankan persahabatan kami. Sebenarnya, saya justru terkejut mendapati diri saya kini terasa begitu bebas, tanpa ikatan—saya benar-benar sesuatu yang amat berbeda. Saya adalah Muhammad Akib Aryo Utomo yang berbeda, dengan solituditas dan kebebasan penuh, siap untuk mengambil langkah-langkah baru.

Saya menjadi lebih berpikiran terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang berbeda, dan terutama, patuh pada kehendak saya sendiri. Ini merupakan perubahan mendasar yang terjadi dalam satu bulan ini. Patuh pada kehendak berbeda dengan patuh dengan hasrat. Dalam konteks saya, patuh pada hasrat berarti main komputer sepuasnya. Sedangkan patuh pada kehendak justru kebalikannya. Kehendak saya adalah saya ingin diterima bersekolah di SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta—maka saya harus membuat suatu komitmen.

Saya menempatkan kehendak saya tersebut menjadi prioritas yang harus diperhatikan dalam tiap tindakan saya. Ini berarti, tiap hal yang berdampak positif terhadap terwujudnya keinginan saya—tidak peduli bagaimanapun melelahkan, tidak menyenangkan, dan membosankan—harus saya lakukan. Maka, saya menuntut diri saya sendiri untuk belajar lebih keras. Ini juga berarti, tiap hal yang berdampak negatif terhadap kehendak saya—tidak peduli bagaimanapun saya menginginkannya—harus ditangguhkan. Salah satunya, menahan diri dari main komputer, membeli CD The Fame Monster, dan menonton Alice in Wonderland.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, hal tersebut berat. Namun, seperti yang juga sudah saya katakan sebelumnya, rutinitas menjadi murid-sempurna-yang-rajin-giat-dan-tekun ini membawa perubahan besar dalam diri saya. Secara mengejutkan, saya sendiri justru tidak keberatan.

Efeknya ternyata begitu positif. Ada kedamaian tersendiri yang saya temukan dari menghabiskan malam-malam saya dengan belajar, dan memenuhi hari-hari saya dengan beribadah. Sebelum satu bulan ini, saya nyaris tidak pernah shalat tahajjud, jarang shalat dhuha, dan hanya kadang-kadang membaca Al-Quran. Semuanya berubah menjadi kebalikannya—dan saya justru menyukai rutinitas ini.

Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa? Karena saya menemukan semua ketenangan diri dari rutinitas saya tersebut. Terutama karena saya berhasil mengendalikan hasrat saya. Saya kini benar-benar mampu menentukan suatu skala prioritas dan bertindak sesuai skala tersebut. Hasilnya, saya merasa hidup saya tertata rapi. Saya tahu saya harus melakukan apa setelah ini, mementingkan pekerjaan yang mana, menangguhkan tindakan apa. Rutinitas ini, nyatanya, memberikan efek ketenangan yang tidak saya temukan sebelum satu bulan ini. Sebelumnya saya kerap kemrungsung melakukan sesuatu, kadang-kadang bingung di tengah perencanaan saya sendiri. Saya merasa dituntut melakukan ribuan hal—beberapa di antaranya nyatanya tidak berguna—hanya karena saya tidak bisa menentukan penting-tidaknya hal tersebut. Oleh karena itu, saya gampang kelelahan dan depresi.

Sekarang, saya merasa begitu tenang, bebas, damai, dan bersih. Tenang, karena saya tahu tindakan apa yang harus dilakukan setelah ini dan itu—bebas, karena saya kini mengetahui bahwa betapa saya sebenarnya memiliki amat banyak waktu luang! Sedangkan damai saya dapatkan karena saya mempunyai waktu lebih banyak untuk berdoa.

Selama ini, jujur, kadang-kadang saya terbebani dengan tuntutan untuk beribadah. Namun, dalam satu bulan ini, saya menyadari bahwa saya sangat perlu beribadah. Bagi saya, beribadah itu seperti meditasi: sepuluh menit untuk menarik diri dari hiruk-pikuk dunia dan terjun ke alam abstrak yang lebih tenang dan hening. Saya menemukan kedamaian dalam konsentrasi saya saat berbincang-bincang dengan Yang Mahakuasa. Shalat, bagi saya, adalah suatu metode yoga. Saya bisa melepaskan semua depresi dengan sepuas hati kepada Yang Mahakuasa, tanpa merasa dibebani seperti apabila saya berkeluh-kesah dengan sesama manusia. Dengan begitu, saya merasa lebih bersih. Bersih dari pikiran-pikiran kotor; bersih dari kecemasan-kecemasan depresif; bersih dari tekanan-tekanan duniawi; bersih dari ketidakteraturan.

***

Saya berubah bahkan dalam aspek paling fundamental saya. Saya tidak lagi merasa tertekan, terburu-buru, dan cemas, serba penuh ambisi akan kesempurnaan yang begitu menuntut. Kini saya merasa lebih tenang, entah bagaimana cenderung apatis dalam bentuk kepasrahan terhadap apapun yang mungkin terjadi di masa depan. Saya masih mempunyai ambisi, tentu—saya masih berkeinginan mengirim The Tale of Bo ke penerbit dan membuat desain tee’s distro baru—namun, saya lebih tenang dalam mengejar ambisi saya. Saya merasa berprinsip seperti lagu Jordin Sparks: took one step at a time—there’s no need to rush.Betapa satu bulan yang mengejutkan. Satu bulan penuh tekanan dan kecemasan—satu bulan penuh ketenangan dan kedamaian. Ada banyak hal lain yang terjadi dalam satu bulan ini—keretakan persahabatan saya, yang sudah disebut tadi; seabreg perubahan lainnya. Namun, sejujurnya, saya tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut, karena saya merasa bahwa apa yang saya lakukan sudah benar. Bahkan menyangkut sahabat-saya-yang-saya-tinggalkan tersebut—karena saya merasa, dia harus disadarkan; dunia kecilnya yang sempurna itu harus diguncangkan agar dia bisa menghargai orang lain; agar dia belajar untuk memosisikan diri dengan berbeda di depan orang yang berbeda pula.

Saya adalah Muhammad Akib Aryo Utomo yang baru, yang berjalan dengan ringan, santai, namun pasti. Muhammad Akib Aryo Utomo yang tahu pasti cara menjalani hidupnya; yang tahu pasti tindakan apa yang harus dilakukan; dan yang yakin dengan keputusannya sendiri. Oleh karena itu, saya tidak menyesali tindakan-tindakan yang saya lakukan bulan ini, karena saya tahu, semua itu murni adalah kehendak saya sendiri. Sebelumnya, selalu ada infiltrasi dari pihak sana-sini dari keputusan saya; namun, satu bulan ini, saya benar-benar menjadi sosok yang independen.

Dengan cara yang aneh saya merindukan UN: merindukan rutinitas ekstra-belajar dan ekstra-ibadahnya yang melelahkan, namun membawa ketenangan tersendiri. Namun, saya tidak mau mengulang UN! Saya sudah puas dengan apa yang telah saya lakukan. Saya merindukan UN terutama mengingat jasanya dalam mengubah saya menjadi sosok yang lebih memuaskan. Sulit melupakan sesuatu yang berefek begitu besar dalam hidupmu; namun, UN sudah berlalu. Kini saya tinggal membuat ambisi baru lagi dan memasrahkan semua hasilnya kepada Yang Mahakuasa.

Maka dari itu, saya juga meminta doa dari pembaca sekalian, dari segala jenjang umur—doakan saya, Muhammad Akib Aryo Utomo, agar saya berhasil mendapatkan nilai sempurna dalam UN, dengan total NEM 40; sehingga saya, Muhammad Akib Aryo Utomo, berhasil diterima bersekolah di SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta! Amin, amin ya rabbal alamin. (Maaf, saya promosi doa di sini.)

Inilah rangkuman saya mengenai bulan-bulan isolasi saya dari komputer dan internet. Saya masih mencintai dua hal itu, tentu—namun saya tidak lagi teradiksi olehnya. Saya sudah bisa menakar porsi yang tepat dalam menggunakan waktu saya untuk keduanya. Tapi… Well, bagaimanapun, UN sudah selesai! Kini saya memiliki waktu untuk memuaskan hasrat saya tersebut!

Jadi, inilah post pertama saya bagi bulan baru ini—sekaligus post pertama saya bagi sebuah awal yang baru.

01 April 2010

Wednesday, May 13, 2009

Invidia

Sungguh saya baru saja mengalami guncangan besar.

Baru-baru saja saja saya mengikuti sebuah kuis di situs jejaring sosial Facebook. Judulnya benar-benar mantap: "Which of the Seven Deadly Sins Are You?" yang bila di-Bahasa Indonesia-kan artinya kurang lebih, "Dari Tujuh Dosa Maut, yang Manakah Dirimu?"

Ini memerlukan penjelasan tentu, terutama bagi yang beragama Islam. Seven Deadly Sins atau Tujuh Dosa Maut merupakan rumusan mengenai dosa-dosa paling mematikan bagi manusia, dalam lingkup literatur Kristiani. Konsep mengenai Tujuh Dosa Maut ini pertama kali diungkapkan oleh St. Gregorius I (540-604), seorang paus. Tujuan dari rumusan dosa-dosa ini adalah untuk memberikan pengajaran mengenai sifat-sifat dan tindakan tentang tindakan-tindakan imoral manusia, yang dapat membuat dosa.
Rumusan Paus Gregorius I ini dikenal sebagai Saligia, inisial dari ketujuh dosa tersebut. Ketujuhnya, sesuai urutan, adalah:
  1. Superbia, atau Kesombongan;
  2. Avaritia, atau Ketamakan;
  3. Luxuria, atau Hawa Nafsu;
  4. Invidia, atau Kecemburuan;
  5. Gula, atau Kerakusan;
  6. Ira, atau Amarah; dan
  7. Acedia, atau Kemalasan.
Mengenai acedia, awalnya pada rumusan Paus Gregorius I dosa tersebut tidak ada. Sebagai gantinya, pada rumusan awal yang ada adalah accidie, yang berarti keputusasaan atau kesedihan yang melumpuhkan.

Nah, sudah tahu 'kan betapa kerennya kuis tersebut? Oleh karena itulah saya mengikutinya... dan tidak menyangka bahwa hasil yang saya dapatkan sungguh mencengangkan.

Because the application said that... my deadliest sin is envy.

Segera saya mengecek kamus, mendapati bahwa envy berarti kecemburuan; atau invidia. Saya lalu mengecek dua buku saya lagi. Keduanya adalah Let's Go Into Narnia karya Arie Saptaji dan The Magical Worlds of Narnia karya David Colbert. Ya, keduanya adalah buku yang menelaah mahakarya Clive Staples Lewis, The Chronicles of Narnia.

Pertanyaannya, mengapa saya membuka kedua buku itu? Karena siapapun yang pernah menelaah Narnia pasti menyadari betapa buku tersebut sarat dengan nilai-nilai Kristiani. Memang, buku itu bukankah sebuah alegori; buku itu adalah sebuah novel anak-anak biasa, penuh dengan fantasi jenius sang pengarang sejati Inggris. Namun, mengingat kereligiusan C.S. Lewis, tidak dapat dipungkiri bahwa novel itu juga mengandung beberapa pembelajaran Kristen.

Mungkin Anda jadi bingung mengenai agama saya. Maka, saya tegaskan: saya seorang Muslim. Lalu mungkin Anda bertanya, kok Anda malah membaca novel sarat Kristen, kalau begitu, atau justru menelaah materi-materi Kristiani?
Jadi saya balik bertanya: memang kenapa? Apakah karena saya seorang Muslim, saya tidak boleh membaca Alkitab dan mempelajari nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya? Dan seorang Kristiani tidak boleh membaca Al-Qur'an serta mengadopsi nilai-nilai moral lain yang juga menjadi dasar fundamental kitab suci tersebut?
Karena saya percaya bahwa setiap agama pada dasarnya suci dan mengajarkan kebaikan. Ya, Anda boleh menganggap saya sebagai penganut monisme (kalau tidak salah istilahnya itu), saya tidak peduli. Saya memang bukan seorang konservatif Muslim yang menutup diri dari dunia luar. Bukankah seorang pemuka agama dari Inggris pernah berkata, bahwa seorang penganut agama yang baik adalah mereka yang mampu mengkritisi agamanya dan mendapatkan nilai-nilai moral dari tindakan mereka tersebut.

(Kira-kira begitu cara pandang saya, walaupun sejujurnya hal tersebut tidak menjabarkan secara baik tentang kompleksnya perspektif beragama saya. Mengenai debatnya, saya tangguhkan. Sekarang bukan saatnya.)

***

Yang pasti, saya kemudian membaca bagian mengenai risalah Dr. Don W. King (siapa dia? Saya juga tidak tahu). King berpendapat bahwa sesungguhnya kisah-kisah Narnia merepresentasikan ketujuh Dosa Maut tersebut; maksudnya beberapa tindakan negatif karakternya. Pendapat King seperti ini:
  1. The Lion, the Witch, and the Wardrobe merepresentasikan gula, di mana Edmund Pevensie terjerat kerakusannya atas Turkish Delight.
  2. Magician Nephew merepresentasikan ira, di mana Digory Kirke dan Polly Plummer mengamati efek negatif dari kemurkaan Jadis, sang calon Penyihir Putih.
  3. The Horse and His Boy merepresentasikan superbia. Aravis, Bree, serta Rabadash memperlihatkan bagaimana mereka mengagungkan harga diri masing-masing--dengan kata lain, bertindak sombong.
  4. Prince Caspian merepresentasikan luxuria. Raja Miraz yang lalim menunjukkan "hawa nafsu" akan "kekuasaan, kekayaan, dan posisi".
  5. Voyage of Dawn Treader merepresentasikan avaritia, di mana Eustace Scrubb menjadi serakah saat melihat harta karun dan akibatnya berubah menjadi naga.
  6. The Silver Chair merepresentasikan acedia, di mana Jill Pole karena terbuai oleh kebaikan palsu para Raksasa menjadi lupa pesan Aslan untuk mengingat-ingat perkataannya.
  7. Dan akhirnya, The Last Battle merepresentasikan invidia. Shift, sang kera kafir, dalam kecemburuan berusaha mendongkel posisi Aslan sebagai pujaan Narnia dan bahkan mempersekutukannya bersama Tash.
Di sinilah hal yang membuat saya syok.

Aduh, bagaimana tidak? Tokoh invidia di The Last Battle adalah sang kera Shift, yang menyebarkan kebohongan di Narnia. Dialah yang membuat makhluk Narnia melupakan Aslan, membuat Narnia harus dilanda Akhir. Dr King berpendapat bahwa Shift adalah sosok Antikristus dalam Kristen; dan itu berarti, seorang Dajjal dalam Islam.
Mungkin para pembaca bingung, apa relevansinya?

Dan inilah relevansinya.

Saya sudah terlalu sering merasa cemburu. Saya benci bila saya dipandang beberapa orang lebih rendah daripada orang-orang lain yang saya benci--dan yang membenci saya pula. Karena hal itu membuat saya terlihat lebih bodoh di mata mereka. Saya tahu itu tidak baik; bahwa sepatutnya saya bangga atas diri saya sendiri.
Tapi saya tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa mereka memandang saya dengan konotasi negatif. Mengapa? Selama enam tahun di SD, saya sama sekali tenggelam; saya tidak dapat bersinar dan berbicara kepada dunia.

***

SD saya adalah sebuah sekolah dasar yang tidak terkenal. Mungkin pada awalnya ya, tapi akhirnya tidak, tepat pada tahun-tahun terakhir saya di sana. Saya membenci fakta ini karena suatu hal: setiap kali saya atau teman-teman mengikuti suatu lomba antar sekolah, orang-orang akan memandang rendah kami.

"SD Keputran 1?" pandangan mereka selalu berkata. "SD mana itu? Nggak terkenal. Pasti SD melarat, nggak elit. Lihat aja anak-anaknya. Iiih!"

Saya dapat membalas mata-mata seperti itu dengan lidah saya. Sejak saya kecil, lidah adalah senjata saya yang selalu diasah dengan penuh perhatian; itulah pertahanan dan alat serang saya yang paling ampuh. Saya bukan orang yang bisa dengan mudah dijatuhkan; justru, saya gampang sekali menjatuhkan orang.
Tapi teman-teman saya tidak. Dan itu menghancurkan hati saya, melihat betapa mereka dengan mudahnya terpancing oleh pandagan tersebut: menjadi marah, benci... dan terutama minder. Mereka kalah sebelum bertanding! Saya sungguh iba kepada mereka, tapi sebisa apapun saya berusaha membesarkan hati, saya tidak sanggup.

Karena jauh di dalam hati, saya juga terluka.

Terluka sekali. Kami semua mempunyai bakat; kami semua mengagumkan. Kami semua adalah bintang-bintang yang baru terlahir dan hendak menyinarkan cahayanya kepada dunia. Namun orang-orang sinis itu memadamkannya. Menenggelamkan kami dalam keterpurukan... Rasa sakit hati yang muncul begitu menyiksa saya hingga sekarang, tertoreh begitu dalam di ingatan saya.

***

Dan sekarang, saat saya SMP, saya mengubah diri saya.
Saya bertekad untuk bersinar dan tidak terkalahkan. Saya mengakuinya; dan memang, sekarang saya berusaha untuk menekan ambisi saya yang sungguh arogan tersebut. Namun tetap saja, setiap orang yang mengenal saya akan tahu bahwa saya tetap seorang pencemburu. Terutama saat saya dilecehkan seperti itu.

Saya tidak memungkiri satu hal pun.

Dan meski saya sekarang selalu berusaha menahan rasa cemburu yang begitu mematikan tersebut, tidak mudah untuk mencabut kembali taring ular. Sulit bagi saya untuk tidak merasa marah bila saya dianggap lebih rendah dari orang yang bahkan tidak lebih baik dari saya. Memang, ini menyangkut perspektif orang, tapi hal itu kadang-kadang susah saya terima.

Maka dari itu, betapa kuis di Facebook tersebut telah sangat menyadarkan saya.
Saya menyadari dengan betul, akhirnya, betapa kecemburuan telah menjadi diri saya sepenuhnya. Ya, kecemburuan itu memang tidak terlihat; yang terlihat adalah saya sebagai sosok yang berharga diri tinggi, tajam, dan kuat. Sosok yang susah dikalahkan. Tapi ada efek buruk dari itu semua: saya menjadi dingin, terkesan mengintimidasi, dan angkuh.
Akan lebih ringan bila orang lain yang memberi saya tangkapan atas kesan tersebut; tapi bila itu sahabat-sahabat kita sendiri, berbeda halnya. Saya telah banyak menyakiti mereka, dan kehilangan beberapa di antaranya, meskipun kadang-kadang bukan sepenuhnya salah saya dan itu adalah sebuah pilihan yang sangat melegakan. Tapi kadang-kadang saya merasa hancur karenanya; melihat teman-teman saya sendiri bersikap hati-hati di depan saya, sekaligus mempergunjingkan arogansi saya di belakang.
Tidak sepenuhnya saya tidak bahagia karenanya. Saya sungguh menghargai beberapa efeknya, seperti bahwa kadang-kadang mereka lebih menghormati dan memperhatikan perkataan saya. Namun mudharat-nya lebih besar. Saya menjadi sosok yang dihormati sekaligus dibenci.

Paus Gregorius benar; kecemburuan itu mematikan;
Membunuh tepat seperti ular dalam selimut.

***

Ini, barangkali, adalah sebuah penelaahan dari post saya sebelumnya.

Saya menyadari dengan sepenuh hati bahwa saya bersalah lebih besar dalam Insiden Penyiraman Massal tersebut. Dan bahwa ternyata, kesalahan saya itu diakibatkan hal yang lebih kompleks, menyangkut berbagai aspek dalam diri saya. Saya tidak perlu menceritakan lebih lanjut akibat yang diakibatkan oleh sang invidia; sudah tertulis jelas di mana-mana.
Jadi, tolong perhatikan:

Kepada mereka yang telah saya sakiti, saya sungguh meminta maaf sebesar-besarnya. Apa yang sudah tertulis di sini adalah pengakuan saya; saya memohon pengertian Anda. Tidak ada lagi memori dan kata-kata yang bisa saya kuras dari masa lalu dan luka-luka jiwa saya. Tidak ada lagi.
Sungguh, Sahabat-sahabatku, aku menyayangi kalian. Lebih dari apapun; karena kalian bisa memahami seorang aku yang kompleks, rumit, temperamental, moody, arogan, dan hina ini. Tidak ada yang lebih berharga dari pengertian dan kasih sayang kalian yang tumpah ruah bagiku.
Mulai saat ini, aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik. Mungkin aku tidak akan selamanya sembuh dari bisa-bisa invidia; aku yakin tidak akan pernah. Namun aku akan mencoba untuk mengobatinya, tetap. Aku akan mencoba untuk menghilangkan racunnya hingga sesedikit mungkin, hingga tidak ada orang lain yang bisa tersakiti olehku.
Aku akan mencoba, aku akan mencoba!
Dan bagi yang lain... pahamilah kisah ini. Betapa Paus Gregorius telah memperingatkan kita dengan panduannya yang bijaksana dan sangat universal ini. Sekecil apapun saligia yang muncul dalam hati kita, itu bisa merusak. Sebagai manusia, kita tidak akan dapat menjauhinya. Tapi kita dapat meminimalisirnya; dan itulah yang harus kita lakukan.

***

Apa yang tertulis dalam post Persahabatan adalah lebih kepada sebuah ungkapan kasih sayang. Itu betul. Juga rasa syukur.

Namun apa yang aku tulis di sini adalah sebuah apologi yang sangat, sangat dalam. Juga sebuah usaha untuk berubah. Dan aku meminta kelapangan hati kalian, O Yang Pernah Tersakiti, serta kedalaman samudera maaf kalian. Aku berjanji aku akan berubah. Aku tidak mau invidia menggigitku lagi dan meracuni hatiku.

Dan akhirnya, tidak ada lagi yang bisa aku katakan. Terima kasih atas perhatian yang kalian berikan, serta maaf yang mungkin-atau-tidak-mungkin kalian hadiahkan. Hanya ada satu penutup yang bisa aku tambahkan, walau ini adalah sebuah penutup yang payah dan tidak bermutu:

Semoga apapun yang terjadi pada kita, kita semua bisa terlindungi dari racun Ketujuh Dosa Maut.

Saturday, April 18, 2009

Saat Esensi Kemanusiaan Hilang

Benarkah manusia itu binatang?

Secara biologis dan fisik, ya. Manusia dikategorikan sebagai mamalia, binatang menyusui dan melahirkan, karena memang itulah yang kita lakukan. Kita mempunyai berbagai bagian tubuh yang mirip dengan beberapa hewan--atau justru mereka yang meniru, entahlah. Kita makan sumber makanan yang juga lazim dikonsumsi mamalia lainnya. Dan, ya, kita berkembang-biak kurang lebih dengan metode yang sama dengan mamalia lainnya; itu adalah salah satu titik paling dekat dengan kebinatangan seorang manusia, selain naluri-naluri hewani lainnya.
Mungkin ada beberapa orang yang membaca bagian terakhir tadi, dan terasa janggal membacanya. Tapi apapun Anda--seorang ateis, seorang pemikir logis, konservatif agama, hippie--tolong camkan: saya bukan seorang pendeta Katolik Roma pada Abad Pertengahan, pada masa sekitar Perang Salib, yang memandang seks sebagai sebuah kebiadaban binatang yang nista. Dan saya juga bukan seorang hedonis pula, yang memandang seks sebagai klimaks tertinggi sebuah hubungan intim antara dua atau kadang lebih manusia, yang juga berarti merupakan pencapaian terbesar dalam sebuah kebahagiaan hubungan.
Saya menganggap seks biasa-biasa saja, tapi memang tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan salah satu dari hal-hal yang sangat kebinatangan dari manusia; semua makhluk hidup melakukannya, dan itulah hal yang paling menyamakan kita dengan serigala, ular, maupun kera.
Tapi kita sudah melantur terlalu jauh. Mari kembali ke topik semula.
Jadi... benarkah manusia itu binatang secara psikis? Satu jawaban pasti, tidak. Karena manusia tidak bisa disebut binatang justru karena memiliki apa yang disebut jiwa. Banyak cara untuk menyebut jiwa karena bagi setiap orang, jiwa itu berbeda. Seorang filsuf akan menyebut jiwa sebagai kesadaran, suatu materi abstraktif yang menjadi sebab manusia bisa berpikir; seorang religius akan berkata jiwa adalah salah satu dari tiga dasar fundamental manusia, yang menjadi titik sentral dirinya, di mana lewat jiwalah manusia berkomunikasi dengan Tuhan; dan seseorang yang sederhana namun bijak akan berkata bahwa jiwa itu hati.

Jiwa itu cinta.
Jiwa itu emosi.


Dan dengan begitu, seperti yang pernah diungkapkan oleh St. Augustine, hal ini mengungkapkan satu hal: emosi adalah esensi dasar kemanusiaan. Kita bukan binatang karena kita bisa memiliki emosi. Tapi emosi yang murni, emosi yang didasarkan oleh hati, jiwa, cinta, dan setitik kesadaran kita. Emosi yang bukan karena hormon, di mana hanya gara-gara sebuah reaksi masa bodoh maka ketakutan akan muncul, nafsu akan muncul, kebahagiaan akan muncul...
Bukan. Kita mendapat emosi dari dorongan-dorongan yang jauh lebih suci. Jika dipikir secara logis, kita mendapatkan emosi karena kita belajar untuk memahaminya. Dari kecil otak kita menangkap dan mempelajari pengalaman masa lalu, lalu meramunya sehingga kita mendapatkan emosi. Itu bila secara logis. Namun emosi jauh lebih kompleks dari itu semua. Kita mempunyai emosi... karena dari kecil kita memilikinya. Bukan karena belajar.
Bila karena belajar, seharusnya robot dan setiap benda dengan kecerdasan artifisial (atau artificial intelligence, maksudnya) akan dapat mempunyai emosi pula. Tapi ada sesuatu yang sangat kuat, kekuatan psikis yang maha, rasa kemanusiaan yang begitu besar dan indah yang mendorong kita marah, sedih, atau bahagia. Beberapa menyebutnya cinta; tapi saya percaya ini lebih besar dari itu.
Kekuatan ini adalah kekuatan rohaniah yang begitu besar dan tidak dapat dijelaskan secara logis. Oleh karena itu, mungkin ada benarnya juga ungkapan, "Tuhan ada di mana-mana; bahkan di dalam jiwa."

***

Tapi bila kita kehilangan esensinya... apakah kita akan berubah menjadi bukan manusia lagi?

Pembaca mungkin pernah mendapati saya menulis suatu puisi di blog ini, yang isinya merupakan suatu kekosongan emosi. Jujur, saat menulis puisi itu, saya benar-benar galau, sedih, frustrasi. Kenapa? Alasannya justru kebalikannya: karena saya sedang kosong.

Saya tidak merasakan apapun.
Saya tidak bahagia, tidak sedih, tidak marah, tidak takut, tidak rindu.
Saya tidak mendapati suatu emosipun.
Saya kehilangan esensi fundamental saya.

Saya hanya merasa muak dengan diri saya sendiri dan dunia. Saya merasa segalanya hanya dusta, kemunafikan. Tidak ada yang tulus dalam kehidupan ini, dalam dunia orang dewasa. Setiap orang tidak berani bicara apa yang benar-benar ada dalam perasaannya. Kebebasan hati untuk bicara, bukan hanya kebebasan bicara, tidak diakui; justru diikat oleh nilai-nilai formalitas. Hubungan menjadi kaku, tidak ada yang benar-benar intim.
Racun yang sungguh menyesakkan jiwa dan meracuni setiap manusia. Bahkan kanak-kanak pun dipaksa tunduk.
Jadi, pertanyaannya, apakah ini berarti saya kehilangan esensi saya sebagai manusia?


*to be updated later ; 180409*