Thursday, April 1, 2010

Final Exam Aftermath

And now, at last, I can shout out loud, AT LAST!”

Akhirnya, setelah berbulan-bulan tidak memainkan satu pun game; setelah satu bulan penuh tidak berhubungan dengan internet, baik melalui handphone maupun komputer; setelah kira-kira dua minggu berturut-turut tidak menyentuh komputer; dan terutama, setelah menghabiskan empat hari penuh konsentrasi, tekanan, dan kecemasan, saya berhasil menempuh Ujian Nasional tingkat SMP, insya Allah, dengan baik.

Ujian Nasional tingkat SMP dilaksanakan mulai dari tanggal 29 Maret – 1 April 2010. Empat hari, yang bukan hanya empat hari, karena 1095 hari pembelajaran saya di SMP diakumulasi dalam empat hari tersebut. Di empat hari tersebut saya akan menentukan nilai saya, untuk dijadikan acuan dalam masuk ke SMA mana nantinya—dan dengan begitu, menjadi acuan masa depan saya, karena SMA merupakan titik awal mulainya karir dan kehidupan dewasa sesorang—di SMA-lah, ditentukan, akankah saya sukses di masa depan. Oleh karena itu, tuntutan untuk menjalani empat hari ini dengan sempurna amat besar. Sungguh, empat hari yang meskipun hanya 96 jam saja, namun begitu melelahkan; emapt hari yang benar-benar menuntut perubahan mendasar dalam hidup saya. Perubahan dalam aspek paling fundamental, yang begitu berat hingga saya amat tertekan karenanya.

Saya harus belajar setiap saat: menelaah tiap catatan, mempelajari tiap buku, mengerjakan tiap soal, mengulang tiap pelajaran—suatu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bagi pembaca, mungkin hal ini terdengar lebay—namun, sungguh, hal itu berat. Tiap ada waktu, saya dituntut untuk memanfaatkannya demi dua hal—belajar atau istirahat. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada waktu untuk bermain, untuk dibuang percuma. Tiap hari Minggu saya mengikuti tryout bila ada; tiap sepulang sekolah saya lebih baik tidur daripada membuang energi untuk hal lainnya.

Ini berarti, saya juga tidak bisa menggunakan komputer dalam bentuk apapun. Padahal, betapa besarnya godaan untuk main komputer tersebut! Godaan ini adalah salah satu hal yang amat menekan saya. Saya, bisa dibilang, telah teradiksi komputer—sebelum satu bulan ini saya benar-benar tidak bisa lepas dari komputer, minimal tiga hari sekali saya harus menggunakan komputer, entah untuk hal apapun. Masalahnya, saya orangnya sangat rapuh—sekali saya main komputer, selanjutnya saya akan berkeinginan untuk menggunakannya lagi, lagi, dan lagi.

Hal itu dalam menjadi ganjalan bagi saya untuk belajar—oleh karena itu, tidak ada cara lain, saya harus melepaskan komputer, setidaknya satu bulan, dalam kehidupan saya. Dan itu sungguh, sungguh berat. Anda tidak bisa membayangkan betapa gatalnya jari saya untuk memainkan keyboard dan mouse; gatalnya pantat saya untuk duduk berjam-jam di depan komputer; gatalnya mata saya untuk menelan apapun yang ada di monitor. Otak saya pun juga gatal, begitu ingin menumpahkan tetek-bengek imajinasi saya yang sudah menggunung—mungkin itu sebabnya post ini tampaknya agak kacau-balau. Sungguh, pembaca, saya ingin meraung-raung akibat tekanan godaan ini: godaan untuk mengetik cerita, mengedit foto, membuat desain, bermain game, sekadar mendengarkan lagu, dan terutama browsing internet.

Saking gatalnya, saya nyaris bersumpah bahwa tepat setelah hari terakhir UN, hal pertama yang saya lakukan adalah pergi ke warnet dan melakukan hal-hal ini: update status Facebook; membuka video Lady Gaga dan Alicia Keys, minimal, di YouTube; posting di Blogspot; membuat minimal tiga desain baru di Looklet; melihat berita baru di Wikipedia; dan seabreg kegiatan lainnya.

***

Tetapi, pada hari post ini ditulis, tanggal 1 April 2010, saya nyatanya tidak browsing di internet. Pertanyaannya, mengapa? Saya tidak menemukan jawaban lain kecuali satu hal: saya sudah berubah. Sejujurnya, begitu besar perubahan saya dalam satu bulan ini.

Dalam satu bulan, saya dan sahabat saya memulai sebuah pertengkaran dengan seorang lagi sahabat saya yang berakhir fatal hingga sekarang. Saya, kadang-kadang, agak menyesali hal ini—namun, secara keseluruhan, saya tidak merasa bersalah. Apa yang kami lakukan demi kebaikan sahabat kami tersebut, jadi sungguh, saya sama sekali tidak keberatan kalau dia justru pergi meninggalkan kami, toh nyatanya hingga sekarang dia tidak mempertahankan persahabatan kami. Sebenarnya, saya justru terkejut mendapati diri saya kini terasa begitu bebas, tanpa ikatan—saya benar-benar sesuatu yang amat berbeda. Saya adalah Muhammad Akib Aryo Utomo yang berbeda, dengan solituditas dan kebebasan penuh, siap untuk mengambil langkah-langkah baru.

Saya menjadi lebih berpikiran terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang berbeda, dan terutama, patuh pada kehendak saya sendiri. Ini merupakan perubahan mendasar yang terjadi dalam satu bulan ini. Patuh pada kehendak berbeda dengan patuh dengan hasrat. Dalam konteks saya, patuh pada hasrat berarti main komputer sepuasnya. Sedangkan patuh pada kehendak justru kebalikannya. Kehendak saya adalah saya ingin diterima bersekolah di SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta—maka saya harus membuat suatu komitmen.

Saya menempatkan kehendak saya tersebut menjadi prioritas yang harus diperhatikan dalam tiap tindakan saya. Ini berarti, tiap hal yang berdampak positif terhadap terwujudnya keinginan saya—tidak peduli bagaimanapun melelahkan, tidak menyenangkan, dan membosankan—harus saya lakukan. Maka, saya menuntut diri saya sendiri untuk belajar lebih keras. Ini juga berarti, tiap hal yang berdampak negatif terhadap kehendak saya—tidak peduli bagaimanapun saya menginginkannya—harus ditangguhkan. Salah satunya, menahan diri dari main komputer, membeli CD The Fame Monster, dan menonton Alice in Wonderland.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, hal tersebut berat. Namun, seperti yang juga sudah saya katakan sebelumnya, rutinitas menjadi murid-sempurna-yang-rajin-giat-dan-tekun ini membawa perubahan besar dalam diri saya. Secara mengejutkan, saya sendiri justru tidak keberatan.

Efeknya ternyata begitu positif. Ada kedamaian tersendiri yang saya temukan dari menghabiskan malam-malam saya dengan belajar, dan memenuhi hari-hari saya dengan beribadah. Sebelum satu bulan ini, saya nyaris tidak pernah shalat tahajjud, jarang shalat dhuha, dan hanya kadang-kadang membaca Al-Quran. Semuanya berubah menjadi kebalikannya—dan saya justru menyukai rutinitas ini.

Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa? Karena saya menemukan semua ketenangan diri dari rutinitas saya tersebut. Terutama karena saya berhasil mengendalikan hasrat saya. Saya kini benar-benar mampu menentukan suatu skala prioritas dan bertindak sesuai skala tersebut. Hasilnya, saya merasa hidup saya tertata rapi. Saya tahu saya harus melakukan apa setelah ini, mementingkan pekerjaan yang mana, menangguhkan tindakan apa. Rutinitas ini, nyatanya, memberikan efek ketenangan yang tidak saya temukan sebelum satu bulan ini. Sebelumnya saya kerap kemrungsung melakukan sesuatu, kadang-kadang bingung di tengah perencanaan saya sendiri. Saya merasa dituntut melakukan ribuan hal—beberapa di antaranya nyatanya tidak berguna—hanya karena saya tidak bisa menentukan penting-tidaknya hal tersebut. Oleh karena itu, saya gampang kelelahan dan depresi.

Sekarang, saya merasa begitu tenang, bebas, damai, dan bersih. Tenang, karena saya tahu tindakan apa yang harus dilakukan setelah ini dan itu—bebas, karena saya kini mengetahui bahwa betapa saya sebenarnya memiliki amat banyak waktu luang! Sedangkan damai saya dapatkan karena saya mempunyai waktu lebih banyak untuk berdoa.

Selama ini, jujur, kadang-kadang saya terbebani dengan tuntutan untuk beribadah. Namun, dalam satu bulan ini, saya menyadari bahwa saya sangat perlu beribadah. Bagi saya, beribadah itu seperti meditasi: sepuluh menit untuk menarik diri dari hiruk-pikuk dunia dan terjun ke alam abstrak yang lebih tenang dan hening. Saya menemukan kedamaian dalam konsentrasi saya saat berbincang-bincang dengan Yang Mahakuasa. Shalat, bagi saya, adalah suatu metode yoga. Saya bisa melepaskan semua depresi dengan sepuas hati kepada Yang Mahakuasa, tanpa merasa dibebani seperti apabila saya berkeluh-kesah dengan sesama manusia. Dengan begitu, saya merasa lebih bersih. Bersih dari pikiran-pikiran kotor; bersih dari kecemasan-kecemasan depresif; bersih dari tekanan-tekanan duniawi; bersih dari ketidakteraturan.

***

Saya berubah bahkan dalam aspek paling fundamental saya. Saya tidak lagi merasa tertekan, terburu-buru, dan cemas, serba penuh ambisi akan kesempurnaan yang begitu menuntut. Kini saya merasa lebih tenang, entah bagaimana cenderung apatis dalam bentuk kepasrahan terhadap apapun yang mungkin terjadi di masa depan. Saya masih mempunyai ambisi, tentu—saya masih berkeinginan mengirim The Tale of Bo ke penerbit dan membuat desain tee’s distro baru—namun, saya lebih tenang dalam mengejar ambisi saya. Saya merasa berprinsip seperti lagu Jordin Sparks: took one step at a time—there’s no need to rush.Betapa satu bulan yang mengejutkan. Satu bulan penuh tekanan dan kecemasan—satu bulan penuh ketenangan dan kedamaian. Ada banyak hal lain yang terjadi dalam satu bulan ini—keretakan persahabatan saya, yang sudah disebut tadi; seabreg perubahan lainnya. Namun, sejujurnya, saya tidak terlalu memikirkan hal-hal tersebut, karena saya merasa bahwa apa yang saya lakukan sudah benar. Bahkan menyangkut sahabat-saya-yang-saya-tinggalkan tersebut—karena saya merasa, dia harus disadarkan; dunia kecilnya yang sempurna itu harus diguncangkan agar dia bisa menghargai orang lain; agar dia belajar untuk memosisikan diri dengan berbeda di depan orang yang berbeda pula.

Saya adalah Muhammad Akib Aryo Utomo yang baru, yang berjalan dengan ringan, santai, namun pasti. Muhammad Akib Aryo Utomo yang tahu pasti cara menjalani hidupnya; yang tahu pasti tindakan apa yang harus dilakukan; dan yang yakin dengan keputusannya sendiri. Oleh karena itu, saya tidak menyesali tindakan-tindakan yang saya lakukan bulan ini, karena saya tahu, semua itu murni adalah kehendak saya sendiri. Sebelumnya, selalu ada infiltrasi dari pihak sana-sini dari keputusan saya; namun, satu bulan ini, saya benar-benar menjadi sosok yang independen.

Dengan cara yang aneh saya merindukan UN: merindukan rutinitas ekstra-belajar dan ekstra-ibadahnya yang melelahkan, namun membawa ketenangan tersendiri. Namun, saya tidak mau mengulang UN! Saya sudah puas dengan apa yang telah saya lakukan. Saya merindukan UN terutama mengingat jasanya dalam mengubah saya menjadi sosok yang lebih memuaskan. Sulit melupakan sesuatu yang berefek begitu besar dalam hidupmu; namun, UN sudah berlalu. Kini saya tinggal membuat ambisi baru lagi dan memasrahkan semua hasilnya kepada Yang Mahakuasa.

Maka dari itu, saya juga meminta doa dari pembaca sekalian, dari segala jenjang umur—doakan saya, Muhammad Akib Aryo Utomo, agar saya berhasil mendapatkan nilai sempurna dalam UN, dengan total NEM 40; sehingga saya, Muhammad Akib Aryo Utomo, berhasil diterima bersekolah di SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta! Amin, amin ya rabbal alamin. (Maaf, saya promosi doa di sini.)

Inilah rangkuman saya mengenai bulan-bulan isolasi saya dari komputer dan internet. Saya masih mencintai dua hal itu, tentu—namun saya tidak lagi teradiksi olehnya. Saya sudah bisa menakar porsi yang tepat dalam menggunakan waktu saya untuk keduanya. Tapi… Well, bagaimanapun, UN sudah selesai! Kini saya memiliki waktu untuk memuaskan hasrat saya tersebut!

Jadi, inilah post pertama saya bagi bulan baru ini—sekaligus post pertama saya bagi sebuah awal yang baru.

01 April 2010

Tuesday, December 29, 2009

Tersesat Itu Menyenangkan: Part One

Pertama-tama, sekali lagi, saya minta maaf karena sudah lama tidak nge-blog. Pertama-tama, sekali lagi, saya minta maaf karena sudah lama tidak nge-blog. Tetapi saya mempunyai alasan. Pertama, internet rumah saya telah menjadi error sekali. Puncaknya, selama berminggu-minggu bahkan tidak ada koneksi sama sekali! Jujur, saya ingin sekali muntab pada si empunya BTS, tapi apa daya, saya merasa itu tidak adil, mengingat atas jerih payah beliaulah saya bisa nge-net gratis selama beberapa bulan pertama. Yang kedua, saya sudah kelas IX, yang itu berarti saya tidak bisa seenaknya melenggang ke warnet sembarangan. Mengingat nilai saya sering turun dengan mudahnya, penjagaan orangtua saya diperketat—ekstra diperketat. Yang ketiga, masih susah bagi saya untuk menulis, terutama setelah meninggalnya nenek saya tercinta. Tapi itu cerita lain, tidak untuk ditorehkan hari ini. Biarlah post ini menjadi terapi saya untuk sembuh.

Saya mengikuti sebuah ‘program pendampingan’, walaupun itu istilah sangat-halusnya. Istilah sedangnya, ‘terapi’, dan istilah sangat kasarnya ‘diobati sakit jiwanya’. Tapi saya yakin, empunya pendamping pasti tidak setuju. Nah, program ini diprakarsai oleh Fakultas Psikologi UGM, di mana calon-calon psikolognya harus latihan praktek dahulu sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Dan inilah saya, sang ‘korban’ eksperimen Mbak Renny, sang ‘pendamping’—atau, istilah kasarnya, setidaknya, ‘calon dokter jiwa’. (Maafkan saya ya Mbak, it’s just a joke.)

Saya ingat, saat itu saya pergi ke gedung Fakultas Psikologi UGM (tempat saya akan bersekolah nantinya, AMIN AMIN AMIN). Saya belum pernah pergi ke sana sendiri, terutama karena di sana bukan tempat anak SMP biasa hangout. Jadi saya sedikit ngeri, apalagi saya harus pulang sendiri nantinya, dan nyaris tidak tahu jalur bus untuk pulang. Pada saat itulah, sebelum saya pulang, Mbak Renny memberikan nasihat bijaknya yang kesekian kali. Saya sudah lupa kalimat persisnya, tapi inilah inti yang saya tangkap.

Katanya, “Tersesat itu menyenangkan, karena dengan begitu kita bisa mengeksplorasi wilayah-wilayah yang belum pernah kita kenal; dan siapa yang tahu kejutan apa yang kita dapatkan di sana? Justru, jika kita terpaku pada zona aman kita, kita tidak akan pernah mendapatkan hal-hal terbaik dalam hidup. Karena hidup itu labirin petualangan yang penuh kejutan.”

Pada waktu itu, saya menelannya bulat-bulat terutama karena saya masih takut naik jalur bus yang belum pernah saya lalui. Saya akui kata Mbak Renny benar. Sungguh menyenangkan perjalanan bus itu, terlebih karena saya melewati jalan yang tidak biasa saya lewati sebelumnya. Namun tetap, saya belum menghayati betul nasihat itu. Saya baru benar-benar menasihatinya beberapa bulan kemudian ketika saya kembali ke Kompleks UGM, kali ini bersama dua sahabat saya, Merlynda Ayu Rara Dini dan Ratih Sanjaya Wahyuningrum.

Kini, mari kita mulai perjalanan saya untuk menghayati keindahan tersesat.

PART ONE: BILA DARI AWAL SAJA SUDAH SENGSARA


Waktu itu sekolah sedang libur. Rencananya, kami pergi ke Fakultas Ilmu Budaya untuk mengunjungi Festival Makanan Eropa yang waktu itu diadakan di sana. Rencananya, kami berangkat ke sana pukul sepuluh dari sekolah. Rencananya. Sayangnya, rencananya tidak berjalan.

Saya berangkat dari rumah pukul 09.30 WIB, setelah orangtua saya berangkat ke kantor. Saya berencana naik bus jalur dua karena harganya murah, dekat, dan cepat. Berjalanlah saya ke Jalan Sisingamangaraja, dan di sana, saya menanti.

Lima belas menit lewat. Bus jalur dua belum juga muncul. Saya mulai jengah, mengingat pagi itu matahari sangat terik. Eh, yang tidak dinyana, seorang tukang becak justru mangkal di dekat saya dengan enaknya. “Mbecak, mas,” katanya menawarkan. Saya tidak acuh. Saya sih mau-mau saja mbecak hingga sekolah, tapi, please, gila aja, mbayarnya berapa?! Budget di dompet pun kecil. Memang, ada Rp 200.000,00 di kantong, tapi target saya hanya habis Rp 50.000,00—maksimal sekali Rp 100.000,00.

Tambah dua puluh menit lewat. Saya sudah mulai muntab. Saya sampai nge-SMS Ratih dan Merlyn, mengecek apakah mereka sudah tiba. Merlyn sudah berangkat, Ratih belum; bahkan dia sangsi akan ikut karena tidak ada pengantar. Pak Becaknya masih mangkal, berkali-kali menawarkan pada saya. Saya sebal luar biasa. Saya sampai meng-update status Facebook karena sebal. Yang parah, berkali-kali jalur 15 lewat. Saya tergoda untuk naik. Namun saat saya berkonsultasi pada bapak saya, kata beliau, “Jangan.”

Tambah sepuluh menit lewat. Saya benar-benar marah sekarang. Tak dinyana, Pak Becak tersebut justru berkata, “Ampun nengga ting mriki, Mas. Nengga nipun ting pertelon mrika, bus ipun lewat mrika—Jangan menunggu di sini, Mas. Nunggunya di pertigaan sana, di sana bus jalur 2 lewat.” Saya malu sekali; saya sudah menjelek-jelekkan bapak tersebut di Facebook, tapi dia justru menolong saya. Saya berterima kasih, dan buru-buru mengupdate status Facebook.

Saya menunggu di pertigaan Pasar Telo. Dan… sekali lagi; mungkin sekitar dua puluh menit lewat. Bus jalur dua bukannya tidak lewat; mereka lewat, bus jalur dua berwarna oranye, dengan kondisi yang masih prima dan bersih. Dua buah malah. Dan keduanya bahkan tidak berhenti saat saya memberi tanda. Mereka hanya ngeloyor begitu saja. Yang satu malah menggelengkan kepala dan langsung cabut! Sungguh, saya muntab. Malu luar biasa saya, hampir satu jam lamanya menunggu bus, tapi ditolak mentah-mentah! Udara panas pula!

Saya ambil keputusan drastis: saya naik bus TransJogja.

Untuk menuju shelter, saya butuh lima belas menit melalui trotoar yang tidak teduh dan jarang dilewati orang, saat matahari bersinar sangat terik, saat hari sudah masuk ke wilayah siang dan bukan lagi pagi; dalam kondisi marah dan capek, kurang konsentrasi hingga tersandung-sandung kepayahan; mengenakan kostum yang salah di wilayah yang salah pula; hanya ditemani handphone Nokia kuno tanpa kamera, dengan koneksi internet pas-pasan, tanpa fitur penunjang seperti MP3, dan parahnya, tidak bisa bergetar apalagi bersuara.

Sungguh, saya sungguh merana.

Dan ditambah sepuluh menit lagi menanti di shelter TransJogja. Saya sudah berkeringat kepayahan, saya sendiri rada jengah dengan kondisi saya. Saya tidak berani bercermin, pasti saya mual melihat saya sendiri. Mungkin orang lain akan bersikap biasa-biasa saja, tapi jujur, saya tidak bisa tidak jengah bila saya pergi hangout dalam kondisi berkeringat, kusam karena polusi jalanan. Mana saya tidak bawa sabun cuci muka dan handbody. Anda boleh berkata saja feminin, atau metroseksual, tapi itu jujur dari sugesti saya sendiri. Saya tidak bisa hangout dalam kondisi kumal.

Akhirnya bus TransJogja tiba, dan sayapun naik. Perjalanan menuju shelter berikutnya di Dinas Kehutanan dimulai. Saya duduk, bersyukur luar biasa karena AC segar yang mendinginkan tubuh saya. Menyenangkan sekali! Ada dua foreigner di sana; ada sedikit rasa ingin ngobrol, mungkin karena euphoria dini saya, tapi saya memutuskan berkutat dengan Facebook saya. Tapi di perjalanan saya ini tidak ada keberuntungan bagi saya.

Bus TransJogja tersebut transit di Terminal Giwangan lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Saya sudah tidak mau menghitung waktu lagi, bahkan meski saya menyanyikan lagi Menghitung Hari penuh kemarahan di dalam bus. Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Saat saya sudah tidak tahan, bus itu akhirnya berjalan. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih, dan Merlyn yang sudah menanti lama, juga mulai tidak sabar. Saya pun menjadi lebih tidak sabar lagi saat diberondong SMS Merlyn yang isinya membuat jengah: “Udah mpe mana?” “Aku dah mpe sekolah daritadi.” “Masih berapa lama?” dsb dsb dsb.

Saya akhirnya sampai di shelter Dinas Kehutanan hanya untuk mendapati saya dipaksa menanti lebih lama dalam kondisi yang lebih buruk. Seorang ibu-ibu turun bersama saya, dan sebuah keluarga tiba di shelter. Dan keluarga itu, Masya Allah, sangat mengenaskan.

Sebelumnya tolong perhatikan: saya tahu apa yang akan saya tulis ini tidak adil, namun mengingat kondisi saya yang ingin sekali meledakkan seisi Jogja, atau setidaknya seluruh bus jalur dua warna oranye di Jogja, saya tidak mampu menahan diri untuk tidak berpikir seperti apa yang akan saya tulis di bawah. Jadi, silakan lewati atau sekalian saja tutup situs ini jika memang tidak mau membacanya.


Keluarga itu terdiri atas seorang ayah, ibu, seorang remaja tanggung laki-laki seperti saya, seorang anak laki-laki kecil, dan anak perempuan yang lebih kecil Entah keluarga itu dari mana. Tapi, sungguh, keluarga itu seperti keluarga gelandangan pinggir jalan. Kedua anaknya tampak tidak terawat, ibunya pun acuh sekali. Dan baunya… dibandingkan bau keringat murni mereka, baunya Okka saja harum semerbak, penuh ‘sensasi’ warna-warni di sini. Keluarga itu seperti sudah sebulan tidak mandi. Mau tidak mau saya berpikir, buat apa keluarga kumuh seperti ini naik TransJogja?

Dan dalam perkembangannya, keluarga itu jauh lebih mengerikan daripada yang saya kira. Ibunya benar-benar tidak acuh, berbicara hanya dalam bentakan keras saat anaknya berbuat salah. Ayahnya memang penyayang, sangat perhatian kepada anak-anaknya, namun cara bermainnya mengerikan—sangat khas orang tidak berpendidikan. Ia memangku puteranya dan mengentak-entakkan kepala bocah itu dengan momentum kuat. Sungguh saya mencemaskan si bocah. Binar matanya saja sudah tidak cerdas, dan apa inteligensinya tidak tambah melorot gara-gara entakan ayahnya yang bodoh itu? Sementara si remaja tanggung dengan asyiknya menonton acara TV hura-hura yang tidak mendidik, itupun wajahnya sudah segembira anak-anak kecil yang melihat Petualangan Sherina di bioskop dulu.

Lalu si bocah dan si anak perempuan bertengkar, entah karena apa. Ibunya melerai keras. Ibu yang turun bersama saya tampak iba; ia berbaik hati memberikan permen kepada si bocah dan si anak perempuan, masing-masing dua buah Collins kacang. Tetapi yang dilakukan si anak perempuan sungguh tidak dinyana. Dengan keegoisan dan kekasaran brutal ia merebut kedua Collins abangnya, membentak keras, meninggalnya si bocah tampak sangat kehilangan. Bila saya menjadi sang ibu, sudah saya jewer anak saya tersebut. Bagaimana tidak? Permen tampaknya adalah sebuah berkah yang amat sangat bagi keduanya, namun mengapa si adik tidak mau berbagi berkah tersebut? Alih-alih, ibunya mendiamkan kedua anaknya—sehingga terpaksa sang ibu-pemberi-permen memberikan lagi permennya kepada sang bocah. Baru saat itu wajah sang ibu tampak cerah, sehingga saya curiga ia memang mengharapkan anaknya diberi permen lebih.

Saya begitu muak kepada keluarga itu, mau tidak mau, bukan karena bau mereka, namun lebih karena budaya keluarga mereka yang begitu minim pendidikan moral dan etika. Bila seperti itu caranya, bagaimana mungkin ketiga anaknya dapat tumbuh dalam hidup yang normal dan berkecukupan seperti anak lainnya? Bagaimana mungkin ketiga anaknya mencapai cita-cita, atau bahkan mempunyai cita-cita? Budaya keluarga tersebut adalah antitesis dari budaya yang kondusif bagi perkembangan anak. Saya menyadari, dengan sedikit sesal, bahwa ada kemungkinan anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi kedua orangtuanya, manusia yang terjebak dalam keterpurukan namun tidak mau bangkit. Memang, mereka tidak bisa disalahkan, karena siapa tahu budaya seperti apa yang menumbuhkan dua orangtua mengerikan seperti itu? Namun saya tetap tidak bisa mencegah hati saya menceloskan teriakan putus asa, khawatir, dan marah: ini salah. Budaya mereka salah.

TransJogja lainnya datang dan kami semua—ibu pemberi permen dan keluarga berantakan itu—masuk. Saya, lagi-lagi, terperangkap di antara mereka. Saya terpaksa duduk di tengah-tengah mereka. Ada satu kejadian lagi yang mengenyakkan saya: si anak perempuan berlari memilih tempat terbaik di dalam bus, namun kedua orangtuanya menolak mengikuti anaknya tersebut. Mending kalau mereka kemudian memanggil anak mereka bergabung dengan mereka; mereka hanya diam dan acuh, seakan masa bodoh saja terhadap anak perempuan mereka, bahkan bila ia diculik orang atau dilempar keluar bus. Sungguh mencengangkan.

Bus berjalan menuju shelter SMP Negeri 5 Yogyakarta. Sepanjang perjalanan, sang ibu tidur pulas. Anaknya yang kecil-kecil bermain sendiri, melompat ke sana-kemari tanpa penjagaan; sementara remaja tanggung itu duduk menerawang, seakan salah tingkah, atau mungkin iri terhadap orang-orang di dalam TransJogja yang tampak lebih kaya daripada dirinya. Sebuah sikap yang tidak bisa disalahkan; inilah akibat dari kesenjangan sosial-ekonomi di Indonesia. Dan oleh karena itu, saya memilih untuk diam saja sepanjang perjalanan, berkutat pada SMS dan Facebook. (Terutama karena Merlyn tidak henti-hentinya mengirim sms.)

Keluarga itu kemudian turun, saya lupa di shelter mana. Saya sungguh iba pada keluarga kurang pendidikan itu. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya pelajar. Orang bisa berkata, “Kamu bisa membantu mereka dengan belajar dan menjadi orang baik-baik,” tapi toh itu bukan hal yang konkrit. Tapi keluarga itu tetap pergi, maka pergilah mereka.

Lalu kami mengitari Kridosono, dan di depan, sekolah saya, Pawitikra tercinta. Saya bersiap-siap turun dan meninggalkan perjalanan ajaib itu. Sungguh, perjalanan terlama saya untuk menempuh 5 kilometer yang sudah sering saya lakukan. Secara menakjubkan saya butuh waktu dua jam untuk mencapai SMP Negeri 5 Yogyakarta. Wow! Sungguh perubahan menakjubkan, mengingat saya biasa menembuh 20 menit saja untuk tiba ke sana.

Tapi toh, dua jam sudah berlalu. Saya harus turun dari perjalanan memuakkan tersebut. Maka, seraya mengirimkan sms terakhir ke Merlyn dan Ratih yang sudah menanti, saya turun dari shelter TransJogja. Nasihat Mbak Renny menggema di kepala saya, namun hanya 10% terserap di otak; karena pikiran saya terus mendengungkan pertanyaan, “Bila dari awal saja sudah sengsara, bagaimana bagian tengahnya nanti?”

Sunday, September 6, 2009

Response #1

A response for this blogpage.


Aku minta maaf.

Aku tidak tahu apakah itu untukku aku, tapi aku minta maaf.

Aku merasa itu kamu tujukan untukku.

Kamu sering menunjukkan sikap bahwa aku mengecewakanmu.

Aku menyakitimu.

Aku melupakanmu.

Dan segala hal jahat lainnya,

yang setelah aku renungi, ternyata memang menyakitimu.

Dan pantas membuatmu marah.

(Marah dalam artian fundamental marah tersebut, bukan dalam pengertian sentimentalnya)

Tapi sungguh, aku berkata dari dalam hatiku,

aku tidak pernah bisa marah karenamu.

Kamu pukul aku sampai sakit, aku nggak akan marah.

Jujur.

Aku terlalu sayang sama kamu untuk kamu sakiti secara fisik.

Tapi justru sewaktu kamu ngacangin aku kemarin, aku benar-benar sakit hati.

Sakit hati yang hanya bisa diakibatkan oleh seseorang yang sangat aku sayang.

Karena kamu marah sama aku. Dan itu berarti aku sudah mengecewakanmu.

Aku sakit karena aku kecewa sama diriku, karena sudah mengecewakan orang yang aku sayang.

(Tenanglah, aku sudah memaafkanmu. Katakan aku pede, tapi aku terlalu percaya kamu tidak bisa menyakitiku. Aku tahu kamu sayang aku.)

Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa aku sayang banget sama kamu.

Kamu salah satu dari segelintir orang yang sangat aku hargai.

Karena itu aku bisa percaya kamu tidak akan menyakitiku,

itu yang disebut optimisme orang yang menyayangi seseorang.

Mereka selalu melihat yang terbaik dari seseorang.

Itulah sebabnya aku benar-benar nggak akan ngecewain kamu.

Kamu sudah seperti saudara aku sendiri.

Kamu seperti keluarga aku, seakan ibumu adalah adik ibuku.

(Dan jujur, kami sudah menganggapmu sebagai keluarga. Seakan ibumu memang adik ibuku.)

Jadi aku minta maaf, minta maaf ribuan kali jika aku mengecewakanmu.

Aku nggak akan mengecewakanmu lagi.

Karena kamu sahabat sejatiku.

Karena kamu seperti saudara bagiku.

Dan saudara tidak sepantasnya membenci satu sama lain, ingat?

Jadi apapun yang akan terjadi, aku tidak akan pernah memusuhimu.

Aku akan selalu berada di sampingmu, menemani langkahmu, menyokongmu, memandumu.

Apapun yang kamu pilih dalam hidup ini, aku akan selalu di sana.

Oke?

Karena aku sayang sama kamu, sahabat-saudaraku...

Janji ya kita nggak akan pernah marahan beneran, apalagi sampai jadi musuh?

Karena aku nggak akan bisa mengecewakanmu.

Aku terlalu sayang kamu untuk itu.




untuknya,
makhluk eksentrik, revolusioner, dan pemberani;
aku janji ini bukan puisi munafik
karena aku
nggak bisa berdusta kalau sama kamu
(dalam artian, berdusta yang dusta, bukan berdusta bercanda)
maaf untuk segala kesalahanku, saudara saya tersayang...